√ Pengertian Wakaf: Dasar Hukum, Syarat dan Keistimewaan Wakaf

Pengertian Wakaf: Dasar Hukum, Syarat, dan Keistimewaan Wakaf

Pengertian Wakaf: Dasar Hukum, Syarat, dan Keistimewaan Wakaf

Sebagai umat beragama islam baik di Indonesia maupun di segala penjuru dunia, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan istilah wakaf. Dalam Indonesia sendiri istilah wakaf ini sering kita dengar pada saat sedang ada pembangunan tempat ibadah, tempat pemakaman, tempat pendidikan, ataupun lain sebagainya.

Meskipun wakaf merupakan kata yang sudah umum di dengar di telinga masyarakat, namun tidak semua orang mengetahui apa pengertian dari wakaf itu sendiri. Lantas apakah kamu mengetahui apa itu wakaf, hukum wakaf, dan syarat wakaf? Untuk kamu yang belum mengetahui, maka mari belajar bersama – sama dengan menyimak pembahasan berikut ini.

 

Pengertian Wakaf

Wakaf merupakan salah satu Sedekah Jariah yang menyedekahkan harta atau benda yang kita miliki untuk kepentingan umat manusia. Harta wakaf tersebut tidak boleh berkurang nilainya. Selain itu harta wakaf juga tidak boleh di jual dan tidak boleh di wariskan. Karena pada hakikatnya wakaf merupakan penyerahan harta kepemilikan manusia menjadi milik Allah SWT atas nama umat.

 

 

Dasar Hukum Wakaf

Dalam wakaf terdapat hukum wakaf dalam islam, yang dimana mengatur tentang wakaf.

 

1. Berdasarkan Al – Qur’an & As – Sunnah

Hadis dan dalil wakaf adalah sebuah hadis yang menceritakan mengenai kisah Umar bin al-Khaththab pada saat mendapatkan tanah di Khaibar. Setelah Umar meminta petunjuk kepada Nabi mengenai tanah tersebut. Kemudian Nabi menganjurkan untuk menahan asal tanah dan menyedahkan hasilnya.

Untuk mengetahui secara lebih lengkap mengenai hadis tersebut yaitu sebagai berikut. “Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya.

Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan. Kemudian Umar lalu menyedekahkan kepada fakir miskin, , untuk memerdekakan budak,  untuk keluarga, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

Sedangkan hadis lain menjelaskan wakaf merupakan berasal dari hadis yang diceritakan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah. Nas hadis tersebut yaitu “Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya, dan anak sholeh yang mendoakannya.”

 

2. Berdasarkan Hukum Positif

Berdasarkan hukum positif wakaf telah di atur dalam Peraturan Pemerintah No 42 Tahun 2006 mengenai Pelaksanaan Undang – Undang No 42 Tahun 2004.

 

 

Syarat-Syarat Wakaf

Ada beberapa syarat wakaf yang perlu di perhatikan, dan berikut penjabaran secara detailnya.

 

1. Syarat Orang yang Berwakaf

  • Orang tersebut memiliki secara penuh harta yang akan di wakafkan, artinya orang tersebut bebas mewakafkan harta miliknya ke siapapun yang ia kehendaki.
  • Orang berakal, bukan orang bodoh, bukan orang gila, dan buka orang yang sedang mabuk.
  • Harus sudah baligh.
  • Orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid).

Perlu kamu ketahui bahwa orang bodoh, orang yang sedang muflis, dan orang yang lemah ingatan tidak sah apabila ia mewakafkan hartanya.

 

2. Syarat Harta yang Diwakafkan

Harta yang sudah diwakafkan tidak sah di pindah kepemilikan kecuali dengan beberapa syarat yang sudah di tentukan.

  • Pertama barang yang di wakafkan harus berharga.
  • Kedua harta yang di wakafkan harus diketahui kadarnya, jadi jika jumlahnya tidak di ketahui (majhul) maka pengalihan kepemilikan tidak sah.
  • Ketiga harta yang di wakafkan itu pasti milik orang yang berwakaf (wakif).
  • Keempat harta tersebut harus berdiri sendiri dan tidak melekat dengan harta lain (mufarrazan) atau juga sering disebut dengan istilah (ghaira shai’).

 

3. Syarat Penerima Wakaf

Syarat – syarat orang yang menerima wakaf (al – mauquf alaih), jika di klasifikasikan orang yang menerima wakaf terbagi menjadi dua macam yaitu pertama orang tertentu (mu’ayyan) dan orang tidak tertentu (ghaira mu’ayyan). Yang di maksud dengan orang tertentu yaitu orang yang jelas dalam menerima wakaf apakah seorang, dua orang, atau sekelompok orang yang semuanya tentu saja tidak boleh di rubah.

Sedangkan orang yang tidak tertentu yaitu penerima wakaf tersebut tidak di tentukan secara terperinci. Misalnya saja fakir, miskin, tempat ibadah, pemakaman, dan lain sebagainya. Seseorang yang berhak menerima wakaf (al-mawquf mu’ayyan) tentu saja seseorang yang boleh untuk memiliki harta (ahlan li al-tamlik). Maka dari itu untuk orang muslim, merdeka dan kafir zimmi yang memenuhi syarat boleh menerima harta wakaf.

Sedangkan orang bodoh, hamba sahaya, dan orang gila tidak sah menerima harta wakaf. Selain itu, syarat – syarat yang berkaitan dengan penerima wakaf orang tidak tertentu (ghaira mu’ayyan) yaitu yang menerima wakaf haruslah bisa menjadikan harta yang di wakafkan tersebut untuk kebaikan sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan wakaf tersebut haya di tunjukan untuk kepentingan umat islam.

 

4. Syarat Shigah

Syarat Shigah merupakan syarat yang berkaitan dengan isi ucapan (sighah), beberapa syarat tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Ucapan tersebut harus menunjukan dan mengandung kata – kata yang menunjukkan kekalnya (ta’bid). Wakaf tidak sah apabila ucapan wakaf tersebut dibatasi dengan waktu tertentu.
  • Ucapan tersebut harus di realisasikan dengan segera (tanjiz) tanpa di gantungkan atau di sangkutkan dengan syarat tertentu.
  • Ucapan harus bersifat pasti.
  • Ucapan tersebut tidak boleh di ikuti dengan syarat yang membatalkan.
  • Jika semua syarat telah dapat dipenuhi, maka penguasa atas tanah wakaf untuk penerima wakaf hukumnya sah.
  • Orang yang berwakaf tidak dapat menarik kembali harta yang telah di wakafkan karena harta tersebut sudah berpindah kepada Allah SWT dan penguasa harta tersebut orang yang menerima wakaf secara umum ia dianggap sebagai pemiliknya namun bersifat ghaira tammah.

 

 

Keistimewaan Wakaf

Wakaf adalah salah satu ibadah amal jariah yang sangat istimewa. Hal tersebut karena pahala dari harta yang di wakafkan oleh orang yang berwakaf akan terus mengalir meskipun orang yang mewakafkan telah meninggal dunia. Berbeda dengan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya yang pahalanya akan terputus ketika manusia meninggal dunia.

Keterangan tersebut berdasarkan hadist yang diterangkan Rasulullah SAW. “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya. [HR. muslim, Imam Abu Dawud, dan Nasa’iy] Menurut jumhur ulama; sedekah jariah dalam wujud waqaf.

Selain itu, pahala wakaf juga dapat di atas namakan orang lain, seperti cerita sahabat Fadhl berikut ini. “Dari sahabat Fadhl datang kepada Rasulullah dan bertanya “ibuku meninggal dunia dan aku bermaksud ingin melakukan amal kebaikan baginya, apakah pahalanya akan bermanfaat buat ibuku? ” Rasulullah menjawab,” Buatlah sumur umum dan niatkan pahalanya kepada ibumu.”

 

Demikianlah pembahasan ringkas dari kami mengenai pengertian wakaf, dasar hukum wakaf, syarat wakaf, dan keistimewaan wakaf. Dengan mewakafkan harta yang kita miliki, maka kita akan mendapatkan pahala yang terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia. Semoga dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu kamu mengenai wakaf.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pengertian Wakaf: Dasar Hukum, Syarat, dan Keistimewaan Wakaf

Pengertian Wakaf: Dasar Hukum, Syarat, dan Keistimewaan Wakaf

Sebagai umat beragama islam baik di Indonesia maupun di segala penjuru dunia, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan istilah wakaf. Dalam Indonesia sendiri istilah wakaf ini sering kita dengar pada saat sedang ada pembangunan tempat ibadah, tempat pemakaman, tempat pendidikan, ataupun lain sebagainya.

Meskipun wakaf merupakan kata yang sudah umum di dengar di telinga masyarakat, namun tidak semua orang mengetahui apa pengertian dari wakaf itu sendiri. Lantas apakah kamu mengetahui apa itu wakaf, hukum wakaf, dan syarat wakaf? Untuk kamu yang belum mengetahui, maka mari belajar bersama – sama dengan menyimak pembahasan berikut ini.

 

Pengertian Wakaf

Wakaf merupakan salah satu Sedekah Jariah yang menyedekahkan harta atau benda yang kita miliki untuk kepentingan umat manusia. Harta wakaf tersebut tidak boleh berkurang nilainya. Selain itu harta wakaf juga tidak boleh di jual dan tidak boleh di wariskan. Karena pada hakikatnya wakaf merupakan penyerahan harta kepemilikan manusia menjadi milik Allah SWT atas nama umat.

 

 

Dasar Hukum Wakaf

Dalam wakaf terdapat hukum wakaf dalam islam, yang dimana mengatur tentang wakaf.

 

1. Berdasarkan Al – Qur’an & As – Sunnah

Hadis dan dalil wakaf adalah sebuah hadis yang menceritakan mengenai kisah Umar bin al-Khaththab pada saat mendapatkan tanah di Khaibar. Setelah Umar meminta petunjuk kepada Nabi mengenai tanah tersebut. Kemudian Nabi menganjurkan untuk menahan asal tanah dan menyedahkan hasilnya.

Untuk mengetahui secara lebih lengkap mengenai hadis tersebut yaitu sebagai berikut. “Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya.

Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan. Kemudian Umar lalu menyedekahkan kepada fakir miskin, , untuk memerdekakan budak,  untuk keluarga, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

Sedangkan hadis lain menjelaskan wakaf merupakan berasal dari hadis yang diceritakan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah. Nas hadis tersebut yaitu “Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya, dan anak sholeh yang mendoakannya.”

 

2. Berdasarkan Hukum Positif

Berdasarkan hukum positif wakaf telah di atur dalam Peraturan Pemerintah No 42 Tahun 2006 mengenai Pelaksanaan Undang – Undang No 42 Tahun 2004.

 

 

Syarat-Syarat Wakaf

Ada beberapa syarat wakaf yang perlu di perhatikan, dan berikut penjabaran secara detailnya.

 

1. Syarat Orang yang Berwakaf

  • Orang tersebut memiliki secara penuh harta yang akan di wakafkan, artinya orang tersebut bebas mewakafkan harta miliknya ke siapapun yang ia kehendaki.
  • Orang berakal, bukan orang bodoh, bukan orang gila, dan buka orang yang sedang mabuk.
  • Harus sudah baligh.
  • Orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid).

Perlu kamu ketahui bahwa orang bodoh, orang yang sedang muflis, dan orang yang lemah ingatan tidak sah apabila ia mewakafkan hartanya.

 

2. Syarat Harta yang Diwakafkan

Harta yang sudah diwakafkan tidak sah di pindah kepemilikan kecuali dengan beberapa syarat yang sudah di tentukan.

  • Pertama barang yang di wakafkan harus berharga.
  • Kedua harta yang di wakafkan harus diketahui kadarnya, jadi jika jumlahnya tidak di ketahui (majhul) maka pengalihan kepemilikan tidak sah.
  • Ketiga harta yang di wakafkan itu pasti milik orang yang berwakaf (wakif).
  • Keempat harta tersebut harus berdiri sendiri dan tidak melekat dengan harta lain (mufarrazan) atau juga sering disebut dengan istilah (ghaira shai’).

 

3. Syarat Penerima Wakaf

Syarat – syarat orang yang menerima wakaf (al – mauquf alaih), jika di klasifikasikan orang yang menerima wakaf terbagi menjadi dua macam yaitu pertama orang tertentu (mu’ayyan) dan orang tidak tertentu (ghaira mu’ayyan). Yang di maksud dengan orang tertentu yaitu orang yang jelas dalam menerima wakaf apakah seorang, dua orang, atau sekelompok orang yang semuanya tentu saja tidak boleh di rubah.

Sedangkan orang yang tidak tertentu yaitu penerima wakaf tersebut tidak di tentukan secara terperinci. Misalnya saja fakir, miskin, tempat ibadah, pemakaman, dan lain sebagainya. Seseorang yang berhak menerima wakaf (al-mawquf mu’ayyan) tentu saja seseorang yang boleh untuk memiliki harta (ahlan li al-tamlik). Maka dari itu untuk orang muslim, merdeka dan kafir zimmi yang memenuhi syarat boleh menerima harta wakaf.

Sedangkan orang bodoh, hamba sahaya, dan orang gila tidak sah menerima harta wakaf. Selain itu, syarat – syarat yang berkaitan dengan penerima wakaf orang tidak tertentu (ghaira mu’ayyan) yaitu yang menerima wakaf haruslah bisa menjadikan harta yang di wakafkan tersebut untuk kebaikan sehingga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan wakaf tersebut haya di tunjukan untuk kepentingan umat islam.

 

4. Syarat Shigah

Syarat Shigah merupakan syarat yang berkaitan dengan isi ucapan (sighah), beberapa syarat tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Ucapan tersebut harus menunjukan dan mengandung kata – kata yang menunjukkan kekalnya (ta’bid). Wakaf tidak sah apabila ucapan wakaf tersebut dibatasi dengan waktu tertentu.
  • Ucapan tersebut harus di realisasikan dengan segera (tanjiz) tanpa di gantungkan atau di sangkutkan dengan syarat tertentu.
  • Ucapan harus bersifat pasti.
  • Ucapan tersebut tidak boleh di ikuti dengan syarat yang membatalkan.
  • Jika semua syarat telah dapat dipenuhi, maka penguasa atas tanah wakaf untuk penerima wakaf hukumnya sah.
  • Orang yang berwakaf tidak dapat menarik kembali harta yang telah di wakafkan karena harta tersebut sudah berpindah kepada Allah SWT dan penguasa harta tersebut orang yang menerima wakaf secara umum ia dianggap sebagai pemiliknya namun bersifat ghaira tammah.

 

 

Keistimewaan Wakaf

Wakaf adalah salah satu ibadah amal jariah yang sangat istimewa. Hal tersebut karena pahala dari harta yang di wakafkan oleh orang yang berwakaf akan terus mengalir meskipun orang yang mewakafkan telah meninggal dunia. Berbeda dengan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya yang pahalanya akan terputus ketika manusia meninggal dunia.

Keterangan tersebut berdasarkan hadist yang diterangkan Rasulullah SAW. “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya. [HR. muslim, Imam Abu Dawud, dan Nasa’iy] Menurut jumhur ulama; sedekah jariah dalam wujud waqaf.

Selain itu, pahala wakaf juga dapat di atas namakan orang lain, seperti cerita sahabat Fadhl berikut ini. “Dari sahabat Fadhl datang kepada Rasulullah dan bertanya “ibuku meninggal dunia dan aku bermaksud ingin melakukan amal kebaikan baginya, apakah pahalanya akan bermanfaat buat ibuku? ” Rasulullah menjawab,” Buatlah sumur umum dan niatkan pahalanya kepada ibumu.”

 

Demikianlah pembahasan ringkas dari kami mengenai pengertian wakaf, dasar hukum wakaf, syarat wakaf, dan keistimewaan wakaf. Dengan mewakafkan harta yang kita miliki, maka kita akan mendapatkan pahala yang terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia. Semoga dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu kamu mengenai wakaf.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *