√ Pengertian Riba: Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam

Pengertian Riba: Jenis-Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam

Pengertian Riba: Jenis-Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam

Istilah riba tentu sudah sering kita dengar, apalagi bagi umat islam. Karena pada dasarnya islam melarang seorang muslim untuk memakan riba, sebab riba itu hukumnya haram dan termasuk salah satu dosa besar. Namun, tanpa disadari atau tidak, praktik riba ternyata banyak kita temukan dalam kehidupan sehari – hari loh. Salah satunya yang terkait dengan bunga yang diberikan dalam kegiatan peminjaman uang atau pada bank konvensional.

Nah, meskipun sering didengar, tapi mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui apa itu definisi riba, apa saja jenis – jenisnya, dasar hukumnya dan contoh praktik riba dalam kehidupan sehari – hari. Maka dari itu, agar kamu dapat memahami apa itu riba, di artikel kali ini telah kami jelaskan mengenai pengertian, jenis-jenis, dasar hukum dan juga contoh riba. Dan berikut ini ulasan mengenai hal tersebut.

 

Pengertian Riba

Secara etimologis, riba berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna ziyadah atau tambahan. Jadi, riba merupakan pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam meminjam. Sedangkan secara umum riba diartikan sebagai penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Misalnya, kamu meminjam uang di bank sebesar Rp5 juta dengan dibebankan bunga 2%, maka disaat pengembalian diwajibkan membayar bunga dan pokok hutang Rp5 juta 200 ribu. Nah, seperti yang telah kita singgung diatas bahwa dalam Islam riba merupakan praktik yang diharamkan. Sebab, pemberlakuan bunga dengan persentase tertentu pada pinjaman Bank Konvensional atau lembaga keuangan lainnya dianggap sebagai praktik riba.

 

 

Pengertian Riba Menurut Para Ahli Fiqih

Pengertian riba juga didefinisikan oleh beberapa pakar atau ahli, nah agar kamu lebih memahami apa arti riba, maka kamu dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli fiqih berikut ini.

 

1. Rahman Al-Jaziri

Salah satu pakar yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi riba yaitu Rahman Al-Jaziri, yang mendefinisikan riba sebagai akad yang terjadi dengan pertukaran tertentu, dan tidak diketahui sama atau tidak menurut syara’ atau terlambat salah satunya.

 

2. Syeikh Muhammad Abduh

Pengertian riba selanjutnya didefinisikan oleh Syeikh Muhammad Abduh, beliau mendefinisian bahwa riba merupakan berbagai penambahan yang disyaratkan oleh pihak yang mempunyai harta kepada pihak yang meminjam harta, akibat pengunduran janji atau kesepakatan pembayaran yang dilakukan oleh peminjam dari waktu yang telah ditetapkan.

 

3. Al-Mali

Pakar selanjutnya yang juga mengemukakan pendapatnya tentang definisi riba yaitu Al-Mali, beliau mengartikan riba sebagai akad yang timbul karena pertukaran barang atau komoditas tertentu yang tidak diketahui perimbangannya menurut syara’, saat berakad atau mengakhiri penukaran kedua belah pihak atau salah satu diantara keduanya.

 

 

Jenis-Jenis Riba

Secara umum riba dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Apa yang dimaksud riba hutang – piutang dan riba jual beli? Nah, agar kamu dapat memahaminya, berikut ini penjelasan mengenai kedua jenis riba tersebut:

1. Riba Hutang-Piutang

Riba hutang-piutang merupakan tindakan mengambil manfaat tambahan dari suatu hutang. Ada dua macam riba dalam transaksi hutang piutang, yaitu:

  • Riba Qardh, yaitu adanya manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang diisyaratkan oleh pemilik dana kepada penerima hutang (muqtaridh).
  • Riba Jahiliah, yaitu penambahan hutang lebih dari nilai pokok karena penerima hutang tidak mampu untuk membayar hutangnya pada waktu yang telah ditetapkan.

 

2. Riba Jual-Beli

Riba jual-beli merupakan jenis riba yang seringkali terjadi ketika konsumen membeli suatu barang dengan cara mencicil. Sehingga penjual menetapkan penambahan nilai barang karena konsumen membelinya dengan cara mencicil. Nah, ada dua macam riba dalam transaksi jual beli, yaitu:

  • Riba Fadhl, yaitu praktik pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan termasuk kedalam jenis barang ribawi.
  • Riba Nasi’ah, yaitu adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Riba nasi’ah ini muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau penambahan antara barang yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

 

Landasan Hukum Riba

Seperti yang kita tahu bahwa riba merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT bagi umat islam serta diharamkan pada kondisi dan bentuk apapun. Nah, hal tersebut telah dijelaskan dalam Al-Quran, dan berikut ini ayat – ayat Al-Quran yang menjelaskannya:

 

1. Q.S. Al-Baqarah : 275

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit jiwa (gila). Kondisi ini disebabkan karena orang – orang tersebut berkata atau berpendapat, bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli namun mengharamkan riba.

 

2. Q.S. Al-Baqarah: 276

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.

 

3. Q.S. Al-Baqarah : 278

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan meninggalkan sisa riba (yang belum dipungut).

 

4. Q.S Ar-Ruum 39

Dalam Q.S Ar-Ruum ayat 39 tersebut dijelaskan bahwa sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

 

5. Q.S Ali ‘Imran : 130

Ayat tersebut mengandung arti “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba…” Jadi, Q.S Ali ‘Imran : 130 ini menjelaskan mengenai larangan untuk memakan atau melakukan riba, karena riba merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT.

 

 

Contoh Riba Dalam Masyarakat

Nah, setelah memahami apa itu riba, ada beberapa contoh riba yang kerap kali terjadi dalam masyarakat yang perlu kita ketahui. Lantas, apa saja contoh riba dalam kehidupan sehari – hari? Yuk, langsung saja simak pembahasannya berikut ini.

 

1. Pemberlakuan Bunga Pinjaman Bank Konvensional

Tahukah kamu, bahwa bunga yang diterapkan oleh Bank konvensional ternyata termasuk dalam praktik riba loh, karena membuat nilai awal dari pinjaman tersebut berubah. Saat kamu meminjam dana dari Bank, maka kamu akan dikenakan bunga setiap kali membayar angsuran pinjaman tersebut.

Hal ini juga terjadi pada lembaga keuangan lainnya, misalnya seperti lembaga pembiayaan. Saat kamu membeli kendaraan bermotor atau properti secara mencicil maka kamu akan dikenakan bunga, dan hal ini termasuk dalam praktik riba.

 

2. Pinjaman Dengan Syarat

Pernahkah kamu atau kerabat mu meminjam uang dari pihak lain yang disertai dengan syarat? Misalnya bunga atau hal lainnya sebagai syarat agar pemilik uang mau meminjamkan uang tersebut. Nah, jika pernah maka hal ini sudah termasuk dalam praktik riba loh.

Sebagai contoh, misalnya teman kamu ingin meminjam uang dari kamu, lalu kamu mau memberikan pinjaman uang tersebut namun dengan memberikan syarat yaitu harus bersedia menjemput dan mengantar kamu setiap hari. Maka hal ini sudah termasuk dalam praktik riba.

 

Itulah pembahasan kali ini mengenai Pengertian Riba Dalam Islam, Jenis-Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba yang telah kami jelaskan secara ringkas diatas. Semoga informasi yang kami sampaikan bermanfaat dan juga menambah wawasan dan pengetahuan kamu tentang salah satu larangan dalam islam yaitu praktik riba. Nah, mungkin itu saja yang dapat disampaikan, silahkan tulis pertanyaan di kolom komentar jika ada yang ingin kamu tanyakan.



√ Pengertian Riba: Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam
√ Pengertian Riba: Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam

Pengertian Riba: Jenis-Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam

Pengertian Riba: Jenis-Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba dalam Islam

Istilah riba tentu sudah sering kita dengar, apalagi bagi umat islam. Karena pada dasarnya islam melarang seorang muslim untuk memakan riba, sebab riba itu hukumnya haram dan termasuk salah satu dosa besar. Namun, tanpa disadari atau tidak, praktik riba ternyata banyak kita temukan dalam kehidupan sehari – hari loh. Salah satunya yang terkait dengan bunga yang diberikan dalam kegiatan peminjaman uang atau pada bank konvensional.

Nah, meskipun sering didengar, tapi mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui apa itu definisi riba, apa saja jenis – jenisnya, dasar hukumnya dan contoh praktik riba dalam kehidupan sehari – hari. Maka dari itu, agar kamu dapat memahami apa itu riba, di artikel kali ini telah kami jelaskan mengenai pengertian, jenis-jenis, dasar hukum dan juga contoh riba. Dan berikut ini ulasan mengenai hal tersebut.

 

Pengertian Riba

Secara etimologis, riba berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna ziyadah atau tambahan. Jadi, riba merupakan pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam meminjam. Sedangkan secara umum riba diartikan sebagai penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Misalnya, kamu meminjam uang di bank sebesar Rp5 juta dengan dibebankan bunga 2%, maka disaat pengembalian diwajibkan membayar bunga dan pokok hutang Rp5 juta 200 ribu. Nah, seperti yang telah kita singgung diatas bahwa dalam Islam riba merupakan praktik yang diharamkan. Sebab, pemberlakuan bunga dengan persentase tertentu pada pinjaman Bank Konvensional atau lembaga keuangan lainnya dianggap sebagai praktik riba.

 

 

Pengertian Riba Menurut Para Ahli Fiqih

Pengertian riba juga didefinisikan oleh beberapa pakar atau ahli, nah agar kamu lebih memahami apa arti riba, maka kamu dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli fiqih berikut ini.

 

1. Rahman Al-Jaziri

Salah satu pakar yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi riba yaitu Rahman Al-Jaziri, yang mendefinisikan riba sebagai akad yang terjadi dengan pertukaran tertentu, dan tidak diketahui sama atau tidak menurut syara’ atau terlambat salah satunya.

 

2. Syeikh Muhammad Abduh

Pengertian riba selanjutnya didefinisikan oleh Syeikh Muhammad Abduh, beliau mendefinisian bahwa riba merupakan berbagai penambahan yang disyaratkan oleh pihak yang mempunyai harta kepada pihak yang meminjam harta, akibat pengunduran janji atau kesepakatan pembayaran yang dilakukan oleh peminjam dari waktu yang telah ditetapkan.

 

3. Al-Mali

Pakar selanjutnya yang juga mengemukakan pendapatnya tentang definisi riba yaitu Al-Mali, beliau mengartikan riba sebagai akad yang timbul karena pertukaran barang atau komoditas tertentu yang tidak diketahui perimbangannya menurut syara’, saat berakad atau mengakhiri penukaran kedua belah pihak atau salah satu diantara keduanya.

 

 

Jenis-Jenis Riba

Secara umum riba dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Apa yang dimaksud riba hutang – piutang dan riba jual beli? Nah, agar kamu dapat memahaminya, berikut ini penjelasan mengenai kedua jenis riba tersebut:

1. Riba Hutang-Piutang

Riba hutang-piutang merupakan tindakan mengambil manfaat tambahan dari suatu hutang. Ada dua macam riba dalam transaksi hutang piutang, yaitu:

  • Riba Qardh, yaitu adanya manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang diisyaratkan oleh pemilik dana kepada penerima hutang (muqtaridh).
  • Riba Jahiliah, yaitu penambahan hutang lebih dari nilai pokok karena penerima hutang tidak mampu untuk membayar hutangnya pada waktu yang telah ditetapkan.

 

2. Riba Jual-Beli

Riba jual-beli merupakan jenis riba yang seringkali terjadi ketika konsumen membeli suatu barang dengan cara mencicil. Sehingga penjual menetapkan penambahan nilai barang karena konsumen membelinya dengan cara mencicil. Nah, ada dua macam riba dalam transaksi jual beli, yaitu:

  • Riba Fadhl, yaitu praktik pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan termasuk kedalam jenis barang ribawi.
  • Riba Nasi’ah, yaitu adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Riba nasi’ah ini muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau penambahan antara barang yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

 

Landasan Hukum Riba

Seperti yang kita tahu bahwa riba merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT bagi umat islam serta diharamkan pada kondisi dan bentuk apapun. Nah, hal tersebut telah dijelaskan dalam Al-Quran, dan berikut ini ayat – ayat Al-Quran yang menjelaskannya:

 

1. Q.S. Al-Baqarah : 275

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit jiwa (gila). Kondisi ini disebabkan karena orang – orang tersebut berkata atau berpendapat, bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli namun mengharamkan riba.

 

2. Q.S. Al-Baqarah: 276

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.

 

3. Q.S. Al-Baqarah : 278

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan meninggalkan sisa riba (yang belum dipungut).

 

4. Q.S Ar-Ruum 39

Dalam Q.S Ar-Ruum ayat 39 tersebut dijelaskan bahwa sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

 

5. Q.S Ali ‘Imran : 130

Ayat tersebut mengandung arti “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba…” Jadi, Q.S Ali ‘Imran : 130 ini menjelaskan mengenai larangan untuk memakan atau melakukan riba, karena riba merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT.

 

 

Contoh Riba Dalam Masyarakat

Nah, setelah memahami apa itu riba, ada beberapa contoh riba yang kerap kali terjadi dalam masyarakat yang perlu kita ketahui. Lantas, apa saja contoh riba dalam kehidupan sehari – hari? Yuk, langsung saja simak pembahasannya berikut ini.

 

1. Pemberlakuan Bunga Pinjaman Bank Konvensional

Tahukah kamu, bahwa bunga yang diterapkan oleh Bank konvensional ternyata termasuk dalam praktik riba loh, karena membuat nilai awal dari pinjaman tersebut berubah. Saat kamu meminjam dana dari Bank, maka kamu akan dikenakan bunga setiap kali membayar angsuran pinjaman tersebut.

Hal ini juga terjadi pada lembaga keuangan lainnya, misalnya seperti lembaga pembiayaan. Saat kamu membeli kendaraan bermotor atau properti secara mencicil maka kamu akan dikenakan bunga, dan hal ini termasuk dalam praktik riba.

 

2. Pinjaman Dengan Syarat

Pernahkah kamu atau kerabat mu meminjam uang dari pihak lain yang disertai dengan syarat? Misalnya bunga atau hal lainnya sebagai syarat agar pemilik uang mau meminjamkan uang tersebut. Nah, jika pernah maka hal ini sudah termasuk dalam praktik riba loh.

Sebagai contoh, misalnya teman kamu ingin meminjam uang dari kamu, lalu kamu mau memberikan pinjaman uang tersebut namun dengan memberikan syarat yaitu harus bersedia menjemput dan mengantar kamu setiap hari. Maka hal ini sudah termasuk dalam praktik riba.

 

Itulah pembahasan kali ini mengenai Pengertian Riba Dalam Islam, Jenis-Jenis, Dasar Hukum dan Contoh Riba yang telah kami jelaskan secara ringkas diatas. Semoga informasi yang kami sampaikan bermanfaat dan juga menambah wawasan dan pengetahuan kamu tentang salah satu larangan dalam islam yaitu praktik riba. Nah, mungkin itu saja yang dapat disampaikan, silahkan tulis pertanyaan di kolom komentar jika ada yang ingin kamu tanyakan.