√ Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, dan Peninggalan

Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan

Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan

Sejarah Kutai Kartanegara – Dalam sejarah Indonesia, pernah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan besar di berbagai wilayah. Kutai Kartanegara merupakan salah satu yang terbesar dengan daerah kekuasaannya. Bahkan ia juga menjadi kerajaan kuno paling tua yang ada di Indonesia. Sejarah tentang kerajaan tersebut terbukti lewat berbagai macam benda peninggalan yang berhasil ditemukan.

Kutai Kartanegara punya cerita dan kisah yang panjang. Sejarah tentang peradaban dengan daerah kekuasaan yang luas ini menjadi salah satu kebanggaan bagi Indonesia. Maka dari itu, alangkah baiknya kita juga belajar tentang asal-usul dari kerajaan tersebut. Serta bukti-bukti kehebatan dan apa yang menyebabkan keruntuhannya. Langsung saja kita simak pembahasan berikut ini.

 

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Kutai Kartanegara merupakan kerajaan hindu tertua yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan penemuan 7 buah prasasti Yupa (tugu batu) yang bertuliskan bahasa sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan apa yang tertulis disana, diperkirakan ia berasal dari abad ke 5 Masehi.

Yupa sendiri merupakan sebuah tugu batu yang fungsinya sebagai peringatan yang dibuat atas perintah raja Mulawarman. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya kerajaan Kutai Martadipura yang dipimpin oleh raja Mulawarman, putra raja Aswawarman dan cucu dari Maharaja Kudungga. Selain itu dikisahkan juga kebaikan raja Mulawarman sebagai pemimpin yang memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

Hingga pada abad ke 13, berdirilah kerajaan baru bercorak Hindu Jawa di muara sungai Mahakam dengan raja pertamanya Aji Batara Agung Dewa Sakti. Akibat dari adanya 2 kerajaan tersebut, timbullah perang antara Kutai Kartanegara dan Kutai Martadipura.

Setelah perang berkepanjangan yang berlangsung, akhirnya Kutai Martadipura pun mengalami kekalahan. Setelah itu raja Aji Batara Agung Dewa Sakti menggabungkan kedua kerajaan tersebut menjadi Kutai Kertanegara Ing Martadipura.

Baca Juga: Kerjaan Majapahit.

 

Letak Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan ini berdiri di tepi sungai Mahakam dengan daerah kekuasaan yang hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan. Letak geografisnya berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Sehingga ada banyak pedagang yang sering singgah di kerajaan tersebut. Hal ini juga mendorong perkembangan kerajaan Kutai Kartanegara menjadi lebih pesat.

 

Silsilah Raja Kutai Kartanegara

Kerajaan ini punya sejarah yang panjang dengan beberapa raja yang membawanya pada masa kejayaan. Sehingga Kutai Kartanegara menjadi salah satu kerajaan hindu terbesar di Indonesia. Berikut ini silsilah para raja yang pernah memimpin Kutai Kartanegara.

 

1. Maharaja Kudungga

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan Kutai. Pada awalnya, Kudungga merupakan seorang kepala suku. Namun kemudian ketika agama Hindu masuk, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Hal ini juga menyebabkan status kedudukan Kudungga ikut berubah menjadi raja. Ia juga diberi gelar Anumerta Dewawarman. Hingga nanti kekuasannya akan diwariskan pada keturunannya.

 

2. Maharaja Asmawarman

Asmawarman sendiri merupakan anak dari Kudungga yang mewarisi tahtanya. Ia memiliki gelar Wangsakerta dan Dewa Ansuman. Menurut apa yang tertulis pada prasasti Yupa, ia digambarkan sebagai raja yang hebat dalam memimpin. Pada masa kepemimpinannya, kerajaan Kutai mampu memperluas daerah kekuasaannya.

 

3. Maharaja Mulawarman

Ia merupakan anak dari Asmawarman sekaligus cucu dari Kudungga. Sebagai penerus, Mulawarman telah berhasil membawa Kutai Kartanegara menuju masa kejayaannya. Pada masa pemerintaannya, rakyat memiliki kehidupan yang tentram dan juga sejahtera. Hal ini membuktikan kemampuannya menjadi seorang raja yang baik.

 

Selain 3 orang raja yang telah disebutkan diatas, masih ada beberapa raja penerus yang lainnya. Namun kepemimpinan mereka tidak terlalu membawa dampak yang besar pada kerajaan. Berikut ini silsilah lengkap para raja Kutai Kartanegara :

  1. Kudungga
  2. Asmawarman
  3. Mulawarman
  4. Irwansyah
  5. Aswawarman
  6. Warman
  7. GajayaWarman
  8. Tungga Warman
  9. Jayanaga Warman
  10. Nalasinga Warman
  11. Nala Parana Tungga
  12. Gadingga Warman Dewa
  13. Indra Warman Dewa
  14. Sangga Warman Dewa
  15. Singsingamangaraja XXI
  16. Candrawarman
  17. Prabu Nefi Suriagus
  18. MaAhmad Ridho Darmawan
  19. Riski Subhana
  20. Sri Langka Dewa
  21. Guna Parana Dewa
  22. Wijaya Warman
  23. Indra Mulya
  24. Sri Aji Dewa
  25. Mulia Putera
  26. Nala Pandita
  27. Indra Paruta Dewa
  28. Dharma

 

Masa Kejayaan Kutai Kartanegara

Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan, diketahui bahwa pada abad ke 4 Masehi masyarakat di wilayah Kutai sudah mulai menerima agama Hindu. Mereka saat itu beralih dan menggunakan sistem pemerintahan kerajaan layaknya yang diterapkan di India. Selain itu terjadi proses akulturasi antara budaya dari luar dengan tradisi bangsa Indonesia itu sendiri. Beberapa poin penting yang bisa kita rangkum dari kehidupan masyarakat Kutai saat itu :

  • Sangat menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
  • Memiliki respon yang baik terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
  • Punya rasa semangat keagamaan yang tinggi.
  • Mampu menerima kebudayaan dari luar tanpa merusak budaya sendiri.

 

Kehidupan Ekonomi

Seperti yang telah disebutkan diatas, letak geografis Kutai Kartanegara berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini menjadikan kehidupan disana ramai aktivitas karena disinggahi para pedagang. Selain itu, pekerjaan lain dari rakyat Kutai berfokus pada pertanian dan peternakan. Bisa dibilang kehidupan mereka cukup maju dan juga sejahtera akibat perkembangan kerajaan yang sangat pesat.

Dengan banyaknya orang yang singgah untuk berdagang, maka hal ini menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan. Karena bagi orang luar yang ingin berdagang di wilayah mereka harus memberikan semacam hadiah kepada raja. Sederhananya seperti pajak yang dibayarkan untuk mendapatkan ijin berdagang di wilayah Kutai. Dan hal ini bisa berupa benda-benda berharga.

 

Kehidupan Politik

Setelah masuknya pengaruh agama Hindu, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Kepemimpinan yang tadinya dipegang oleh kepala suku kini berubah menjadi seorang raja. Dengan begitu terjadi pewarisan kekuasaan yang diawali oleh raja Kudungga hingga ke para keturunannya.

 

Kehidupan Sosial Budaya

Akibat pengaruh dari budaya Hindu, maka kehidupan sosial masyarakat Kutai kala itu memakai sistem kasta. Sehingga setiap individu akan dibedakan status sosialnya berdasarkan kasta yang ia miliki. Seperti sosok Brahmana yang ada kala itu menunjukkan orang-orang dengan kasta yang tinggi dan dihormati.

 

Kehidupan Agama

Rakyat Kutai adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi dan memegang erat kepercayaan mereka. Dalam prasasti Yupa dituliskan sebuah tempat suci bernama Waprakeswara. Yaitu tempat yang digunakan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Siwa. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa masyarakat Kutai kala itu menganut kepercayaan Hindu Siwa. Namun meski begitu, mereka juga tetap melaksanakan adat serta tradisi warisan nenek moyangnya.

 

Runtuhnya Kerajaan Kutai

Konflik antara Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara terus menimbulkan perang. Keruntuhan kerajaan Kutai dimulai ketika Raja Dharma Setiap tewas dalam peperangan. Ia tewas di tangan Aji Pangeran Anum Panji Mendap yang merupakan raja ke 13 Kutai Kartanegara.

Selain itu, berkembangnya kerajaan-kerajaan baru yang bercorak Islam semakin mendorong kemunduran kerajaan Kutai. Terlebih tidak ada raja penerus yang memiliki kemampuan mumpuni membuat mereka semakin runtuh.

Di sisi lain, kedatangan orang-orang eropa menimbulkan ketidaksenangan para rakyat Kutai. Akibatnya terjadilah perlawanan dan bangsa Eropa pun berhasil dipukul mundur. Namun beberapa bulan setelahnya, Belanda datang untuk menyerang pusat kesultanan Kutai. Masyarakat Kutai pun tak lagi mampu membendung serangan itu dan akhirnya Tenggarong dikuasai oleh Belanda pada tahun 1844.

 

Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Keberadaan Kutai Kartanegara dibuktikan lewat berbagai macam benda peninggalan yang telah ditemukan. Ada yang berupa bangunan, prasasti, perhiasan maupun benda-benda lainnya. Berikut ini beberapa penemuan yang terkait dengan kerajaan Kutai Kartanegara.

 

Prasasti Yupa

benda peninggalan kutai kartanegara

Merupakan prasasti tertua yang berasal dari sejarah kerajaan Kutai. Ialah yang menjadi bukti bahwa adanya kerajaan hindu terbesar di Indonesia kala itu. Bertuliskan bahasa sansekerta dengan huruf pallawa, prasasti Yupa mengisahkan tentang para raja dari Kutai.

 

Kalung Uncal Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Berbentuk kalung emas seberat 170 gram dengan hiasan berupa liontin berelief kisah Ramayana. Ia diperuntukan dan dipakai para Sultan Kutai Kartanegara pada masa pemeintahannya. Saat ini, hanya ada 2 kalung Uncal di dunia, pertama ada di India dan yang kedua di Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

 

Ketopong Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Peninggalan yang satu ini berupa mahkota dari para raja Kerajaan Kutai. Bahan pembuatannya adalah emas dengan berat total hingga 1,98 kg. Mahkota tersebut ditemukan sekitar tahun 1890. Benda tersebut kini disimpan dalam Museum Nasional Jakarta

 

Kalung Ciwa

benda peninggalan kutai kartanegara

Pada tahun 1890, seorang warga menemukan kalung Ciwa ini di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman. Biasa digunakan oleh para raja ketika menghadiri pesta atau saat prosesi pengangkatan raja baru.

 

Keris Bukit Kang

benda peninggalan kutai kartanegara

Pemaisuri Aji Putri Karang Melenu adalah pemilik dari keris ini. Ia digunakan ketika melawan para musuh-musuhnya.

 

Pedang Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Tidak seperti pedang pada umumnya, benda yang satu ini terbuat dari emas padat. Pada bagian gagang pedang terdapat ukiran harimau. Sedangkan di ujung sarung pedangnya terdapat hiasan berbentuk buaya. Saat ini pedang tersebut tersimpan dengan aman di Museum Nasional Jakarta.

 

Kura-Kura Emas

benda peninggalan kutai kartanegara

Seperti namanya, benda peninggalan ini berbentuk kura-kura yang terbuat dari emas. Ia ditemukan di daerah Lonh Lalang sekitar hulu sungai Mahakam. Menurut kisahnya, kura-kura emas ini merupakan hadiah dari seorang pangeran dari China untuk putri Sultan Kutai bernama Aji Bidara Putih. Ini merupakan satu dari sekian hadiah yang ditujukan sebagai bukti keinginannya untuk menikahi sang putri. Sekarang ia disimpan di Museum Mulawarman, Tenggarong.

 

Kelambu Kuning

benda peninggalan kutai kartanegara

Banyak dari benda peninggalan kerajaan Kutai yang dipercaya punya kekuatan magis. Dan biasanya mereka disimpan di dalam kelambu kuning ini. Hal tersebut dipercaya untuk menangkal terjadinya bala akibat kekuatan yang dimiliki benda peninggalan tersebut.

 

Tali Juwita

benda peninggalan kutai kartanegara

Benda peninggalan yang satu ini berupa tali yang terdiri dari 21 helai benang. Ia melambangkan 7 buah muara serta 3 anak sungai mulai dari sungai Kelinjau, Kedang Pahu dan Belayan. Seringkali digunakan saat dilaksanakan upacara adat Bepelas.

 

Tempat Duduk Raja

benda peninggalan kutai kartanegara

Ini merupakan singgasana para raja kerajaan Kutai Kartanegara. Saat ini ia disimpan dengan aman di museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

 

Keramik Kuno Tiongkok

benda peninggalan kutai kartanegara

Benda ini berhasil ditemukan di sekitar danau Lipan. Diperkirakan ia berasal dari dinasti kekaisaran Cina Kuno. Keberadaannya di wilayah Kutai membuktikan bahwa ada hubungan perdagangan yang terjalin dengan kekaisaran Cina pada masa itu.

 

Gamelan Gajah Prawoto

benda peninggalan kutai kartanegara

Konon, gamelan ini berasal dari daerah Jawa. Dan sekarang ia disimpan dan dijaga di Museum Mulawarman.

 

Meriam Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Salah satu bentuk pertahanan yang dimiliki oleh kerajaan Kutai saat itu. Ada 4 buah meriam yang berhasil selamat sampai saat ini yaitu Meriam gentar Bumi, Sapu Jagat, Sri Gunung dan Aji Entong.

 

Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari masa kejayaan hingga penyebab keruntuhannya. Semoga apa yang telah dijelaskan diatas bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Sudah seharusnya kita selalu belajar tentang sejarah bangsa Indonesia dan bangga akan hal itu. Apabila ada kritik, saran atau pertanyaan bisa langsung berkomentar di bawah.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan

Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan

Sejarah Kutai Kartanegara – Dalam sejarah Indonesia, pernah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan besar di berbagai wilayah. Kutai Kartanegara merupakan salah satu yang terbesar dengan daerah kekuasaannya. Bahkan ia juga menjadi kerajaan kuno paling tua yang ada di Indonesia. Sejarah tentang kerajaan tersebut terbukti lewat berbagai macam benda peninggalan yang berhasil ditemukan.

Kutai Kartanegara punya cerita dan kisah yang panjang. Sejarah tentang peradaban dengan daerah kekuasaan yang luas ini menjadi salah satu kebanggaan bagi Indonesia. Maka dari itu, alangkah baiknya kita juga belajar tentang asal-usul dari kerajaan tersebut. Serta bukti-bukti kehebatan dan apa yang menyebabkan keruntuhannya. Langsung saja kita simak pembahasan berikut ini.

 

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Kutai Kartanegara merupakan kerajaan hindu tertua yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan penemuan 7 buah prasasti Yupa (tugu batu) yang bertuliskan bahasa sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan apa yang tertulis disana, diperkirakan ia berasal dari abad ke 5 Masehi.

Yupa sendiri merupakan sebuah tugu batu yang fungsinya sebagai peringatan yang dibuat atas perintah raja Mulawarman. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya kerajaan Kutai Martadipura yang dipimpin oleh raja Mulawarman, putra raja Aswawarman dan cucu dari Maharaja Kudungga. Selain itu dikisahkan juga kebaikan raja Mulawarman sebagai pemimpin yang memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

Hingga pada abad ke 13, berdirilah kerajaan baru bercorak Hindu Jawa di muara sungai Mahakam dengan raja pertamanya Aji Batara Agung Dewa Sakti. Akibat dari adanya 2 kerajaan tersebut, timbullah perang antara Kutai Kartanegara dan Kutai Martadipura.

Setelah perang berkepanjangan yang berlangsung, akhirnya Kutai Martadipura pun mengalami kekalahan. Setelah itu raja Aji Batara Agung Dewa Sakti menggabungkan kedua kerajaan tersebut menjadi Kutai Kertanegara Ing Martadipura.

Baca Juga: Kerjaan Majapahit.

 

Letak Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan ini berdiri di tepi sungai Mahakam dengan daerah kekuasaan yang hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan. Letak geografisnya berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Sehingga ada banyak pedagang yang sering singgah di kerajaan tersebut. Hal ini juga mendorong perkembangan kerajaan Kutai Kartanegara menjadi lebih pesat.

 

Silsilah Raja Kutai Kartanegara

Kerajaan ini punya sejarah yang panjang dengan beberapa raja yang membawanya pada masa kejayaan. Sehingga Kutai Kartanegara menjadi salah satu kerajaan hindu terbesar di Indonesia. Berikut ini silsilah para raja yang pernah memimpin Kutai Kartanegara.

 

1. Maharaja Kudungga

Raja pertama sekaligus pendiri dari kerajaan Kutai. Pada awalnya, Kudungga merupakan seorang kepala suku. Namun kemudian ketika agama Hindu masuk, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Hal ini juga menyebabkan status kedudukan Kudungga ikut berubah menjadi raja. Ia juga diberi gelar Anumerta Dewawarman. Hingga nanti kekuasannya akan diwariskan pada keturunannya.

 

2. Maharaja Asmawarman

Asmawarman sendiri merupakan anak dari Kudungga yang mewarisi tahtanya. Ia memiliki gelar Wangsakerta dan Dewa Ansuman. Menurut apa yang tertulis pada prasasti Yupa, ia digambarkan sebagai raja yang hebat dalam memimpin. Pada masa kepemimpinannya, kerajaan Kutai mampu memperluas daerah kekuasaannya.

 

3. Maharaja Mulawarman

Ia merupakan anak dari Asmawarman sekaligus cucu dari Kudungga. Sebagai penerus, Mulawarman telah berhasil membawa Kutai Kartanegara menuju masa kejayaannya. Pada masa pemerintaannya, rakyat memiliki kehidupan yang tentram dan juga sejahtera. Hal ini membuktikan kemampuannya menjadi seorang raja yang baik.

 

Selain 3 orang raja yang telah disebutkan diatas, masih ada beberapa raja penerus yang lainnya. Namun kepemimpinan mereka tidak terlalu membawa dampak yang besar pada kerajaan. Berikut ini silsilah lengkap para raja Kutai Kartanegara :

  1. Kudungga
  2. Asmawarman
  3. Mulawarman
  4. Irwansyah
  5. Aswawarman
  6. Warman
  7. GajayaWarman
  8. Tungga Warman
  9. Jayanaga Warman
  10. Nalasinga Warman
  11. Nala Parana Tungga
  12. Gadingga Warman Dewa
  13. Indra Warman Dewa
  14. Sangga Warman Dewa
  15. Singsingamangaraja XXI
  16. Candrawarman
  17. Prabu Nefi Suriagus
  18. MaAhmad Ridho Darmawan
  19. Riski Subhana
  20. Sri Langka Dewa
  21. Guna Parana Dewa
  22. Wijaya Warman
  23. Indra Mulya
  24. Sri Aji Dewa
  25. Mulia Putera
  26. Nala Pandita
  27. Indra Paruta Dewa
  28. Dharma

 

Masa Kejayaan Kutai Kartanegara

Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan, diketahui bahwa pada abad ke 4 Masehi masyarakat di wilayah Kutai sudah mulai menerima agama Hindu. Mereka saat itu beralih dan menggunakan sistem pemerintahan kerajaan layaknya yang diterapkan di India. Selain itu terjadi proses akulturasi antara budaya dari luar dengan tradisi bangsa Indonesia itu sendiri. Beberapa poin penting yang bisa kita rangkum dari kehidupan masyarakat Kutai saat itu :

  • Sangat menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
  • Memiliki respon yang baik terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
  • Punya rasa semangat keagamaan yang tinggi.
  • Mampu menerima kebudayaan dari luar tanpa merusak budaya sendiri.

 

Kehidupan Ekonomi

Seperti yang telah disebutkan diatas, letak geografis Kutai Kartanegara berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini menjadikan kehidupan disana ramai aktivitas karena disinggahi para pedagang. Selain itu, pekerjaan lain dari rakyat Kutai berfokus pada pertanian dan peternakan. Bisa dibilang kehidupan mereka cukup maju dan juga sejahtera akibat perkembangan kerajaan yang sangat pesat.

Dengan banyaknya orang yang singgah untuk berdagang, maka hal ini menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan. Karena bagi orang luar yang ingin berdagang di wilayah mereka harus memberikan semacam hadiah kepada raja. Sederhananya seperti pajak yang dibayarkan untuk mendapatkan ijin berdagang di wilayah Kutai. Dan hal ini bisa berupa benda-benda berharga.

 

Kehidupan Politik

Setelah masuknya pengaruh agama Hindu, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi kerajaan. Kepemimpinan yang tadinya dipegang oleh kepala suku kini berubah menjadi seorang raja. Dengan begitu terjadi pewarisan kekuasaan yang diawali oleh raja Kudungga hingga ke para keturunannya.

 

Kehidupan Sosial Budaya

Akibat pengaruh dari budaya Hindu, maka kehidupan sosial masyarakat Kutai kala itu memakai sistem kasta. Sehingga setiap individu akan dibedakan status sosialnya berdasarkan kasta yang ia miliki. Seperti sosok Brahmana yang ada kala itu menunjukkan orang-orang dengan kasta yang tinggi dan dihormati.

 

Kehidupan Agama

Rakyat Kutai adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi dan memegang erat kepercayaan mereka. Dalam prasasti Yupa dituliskan sebuah tempat suci bernama Waprakeswara. Yaitu tempat yang digunakan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Siwa. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa masyarakat Kutai kala itu menganut kepercayaan Hindu Siwa. Namun meski begitu, mereka juga tetap melaksanakan adat serta tradisi warisan nenek moyangnya.

 

Runtuhnya Kerajaan Kutai

Konflik antara Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara terus menimbulkan perang. Keruntuhan kerajaan Kutai dimulai ketika Raja Dharma Setiap tewas dalam peperangan. Ia tewas di tangan Aji Pangeran Anum Panji Mendap yang merupakan raja ke 13 Kutai Kartanegara.

Selain itu, berkembangnya kerajaan-kerajaan baru yang bercorak Islam semakin mendorong kemunduran kerajaan Kutai. Terlebih tidak ada raja penerus yang memiliki kemampuan mumpuni membuat mereka semakin runtuh.

Di sisi lain, kedatangan orang-orang eropa menimbulkan ketidaksenangan para rakyat Kutai. Akibatnya terjadilah perlawanan dan bangsa Eropa pun berhasil dipukul mundur. Namun beberapa bulan setelahnya, Belanda datang untuk menyerang pusat kesultanan Kutai. Masyarakat Kutai pun tak lagi mampu membendung serangan itu dan akhirnya Tenggarong dikuasai oleh Belanda pada tahun 1844.

 

Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Keberadaan Kutai Kartanegara dibuktikan lewat berbagai macam benda peninggalan yang telah ditemukan. Ada yang berupa bangunan, prasasti, perhiasan maupun benda-benda lainnya. Berikut ini beberapa penemuan yang terkait dengan kerajaan Kutai Kartanegara.

 

Prasasti Yupa

benda peninggalan kutai kartanegara

Merupakan prasasti tertua yang berasal dari sejarah kerajaan Kutai. Ialah yang menjadi bukti bahwa adanya kerajaan hindu terbesar di Indonesia kala itu. Bertuliskan bahasa sansekerta dengan huruf pallawa, prasasti Yupa mengisahkan tentang para raja dari Kutai.

 

Kalung Uncal Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Berbentuk kalung emas seberat 170 gram dengan hiasan berupa liontin berelief kisah Ramayana. Ia diperuntukan dan dipakai para Sultan Kutai Kartanegara pada masa pemeintahannya. Saat ini, hanya ada 2 kalung Uncal di dunia, pertama ada di India dan yang kedua di Museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

 

Ketopong Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Peninggalan yang satu ini berupa mahkota dari para raja Kerajaan Kutai. Bahan pembuatannya adalah emas dengan berat total hingga 1,98 kg. Mahkota tersebut ditemukan sekitar tahun 1890. Benda tersebut kini disimpan dalam Museum Nasional Jakarta

 

Kalung Ciwa

benda peninggalan kutai kartanegara

Pada tahun 1890, seorang warga menemukan kalung Ciwa ini di sekitar Danau Lipan, Muara Kaman. Biasa digunakan oleh para raja ketika menghadiri pesta atau saat prosesi pengangkatan raja baru.

 

Keris Bukit Kang

benda peninggalan kutai kartanegara

Pemaisuri Aji Putri Karang Melenu adalah pemilik dari keris ini. Ia digunakan ketika melawan para musuh-musuhnya.

 

Pedang Sultan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Tidak seperti pedang pada umumnya, benda yang satu ini terbuat dari emas padat. Pada bagian gagang pedang terdapat ukiran harimau. Sedangkan di ujung sarung pedangnya terdapat hiasan berbentuk buaya. Saat ini pedang tersebut tersimpan dengan aman di Museum Nasional Jakarta.

 

Kura-Kura Emas

benda peninggalan kutai kartanegara

Seperti namanya, benda peninggalan ini berbentuk kura-kura yang terbuat dari emas. Ia ditemukan di daerah Lonh Lalang sekitar hulu sungai Mahakam. Menurut kisahnya, kura-kura emas ini merupakan hadiah dari seorang pangeran dari China untuk putri Sultan Kutai bernama Aji Bidara Putih. Ini merupakan satu dari sekian hadiah yang ditujukan sebagai bukti keinginannya untuk menikahi sang putri. Sekarang ia disimpan di Museum Mulawarman, Tenggarong.

 

Kelambu Kuning

benda peninggalan kutai kartanegara

Banyak dari benda peninggalan kerajaan Kutai yang dipercaya punya kekuatan magis. Dan biasanya mereka disimpan di dalam kelambu kuning ini. Hal tersebut dipercaya untuk menangkal terjadinya bala akibat kekuatan yang dimiliki benda peninggalan tersebut.

 

Tali Juwita

benda peninggalan kutai kartanegara

Benda peninggalan yang satu ini berupa tali yang terdiri dari 21 helai benang. Ia melambangkan 7 buah muara serta 3 anak sungai mulai dari sungai Kelinjau, Kedang Pahu dan Belayan. Seringkali digunakan saat dilaksanakan upacara adat Bepelas.

 

Tempat Duduk Raja

benda peninggalan kutai kartanegara

Ini merupakan singgasana para raja kerajaan Kutai Kartanegara. Saat ini ia disimpan dengan aman di museum Mulawarman, Tenggarong, Kalimantan.

 

Keramik Kuno Tiongkok

benda peninggalan kutai kartanegara

Benda ini berhasil ditemukan di sekitar danau Lipan. Diperkirakan ia berasal dari dinasti kekaisaran Cina Kuno. Keberadaannya di wilayah Kutai membuktikan bahwa ada hubungan perdagangan yang terjalin dengan kekaisaran Cina pada masa itu.

 

Gamelan Gajah Prawoto

benda peninggalan kutai kartanegara

Konon, gamelan ini berasal dari daerah Jawa. Dan sekarang ia disimpan dan dijaga di Museum Mulawarman.

 

Meriam Kerajaan Kutai

benda peninggalan kutai kartanegara

Salah satu bentuk pertahanan yang dimiliki oleh kerajaan Kutai saat itu. Ada 4 buah meriam yang berhasil selamat sampai saat ini yaitu Meriam gentar Bumi, Sapu Jagat, Sri Gunung dan Aji Entong.

 

Demikian pembahasan mengenai sejarah kerajaan Kutai Kartanegara mulai dari masa kejayaan hingga penyebab keruntuhannya. Semoga apa yang telah dijelaskan diatas bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Sudah seharusnya kita selalu belajar tentang sejarah bangsa Indonesia dan bangga akan hal itu. Apabila ada kritik, saran atau pertanyaan bisa langsung berkomentar di bawah.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *