√ Aksara Jawa: Pasangan, Sandangan, Contoh, Cara Menulis (Lengkap)

Aksara Jawa: Pasangan, Sandangan, Contoh dan Cara Menulis

Aksara Jawa: Pasangan, Sandangan, Contoh dan Cara Menulis
By : Mochamad Alif Prayogo 19 min read

Aksara Jawa – Di sekolah tentu kita pernah menjumpai mata pelajaran Bahasa Jawa, dan dalam pelajaran bahasa jawa kita dikenalkan dengan yang namanya aksara jawa. Aksara Jawa merupakan turunan dari jenis aksara Brahmi. Jenis aksara yang satu ini telah lama dipakai di berbagai wilayah Nusantara dari berbagai kalangan. Beberapa wilayah yang menggunakan aksara jenis ini adalah Pulau Jawa, Sunda, Melayu, Makasar, sasak dan biasa juga digunakan dalam penulisan karya sastra yang menggunakan bahasa Jawa.

Awal mula aksara jawa ini digunakan sudah sangat lama, bahkan sejak abad ke 17 masehi aksara jawa sudah digunakan pada masa berdirinya kerajaan Mataram Islam. Pada masa kerjaan Mataram Islam tersebut pula ditetapkan abjad carakan atau yang lebih dikenal dengan abjad Hanacaraka yang sampai sekarang ini masih digunakan. Kemudian pada aban ke 19 masehi aksaara jawa baru dibuat dalam bentuk cetakan. Aksara jawa ini sebenarnya gabungan dari aksara Kawi dan aksara Abugida.

Berdasarkan dari struktur tiap huruf pada aksara jawa, setidaknya mewakili dua buah dari abjad aksara yang ada dalam bentuk latin. Hal ini juga menjadi bukti bahwa aksara Jawa ini memang merupakan gabungan dari kedua aksara yaitu Kawi dan Abugida. Sebagai contoh adalah huruf Ha menjadi perwakilan huruf H dan A. Kedua suku kata tersebut bisa dibilang utuh jika dibandingkan dengan kata Hari. Kemudian pada aksara Na yang merupakan gabungan antara huruf N dan A. Aksara ini juga menjadi suku kata yang utuh jika dibandingkan dengan kata Nabi.

Karena hal inilah cacah huruf pada penulisan kata yang disingkat jika dibandingkan dengan tata cara menulis dalam bentuk aksara latin yang biasa kita gunakan.Sama halnya dengan jenis aksara Hindi dimana dalam bentuk orisinilnya tata cara penulisan untuk aksara Jawa yaitu Jawa Hanacaraka adalah dengan menggantung atau dengan diberi garis pada sisi bawahnya. Kemudian setelah seiring berjalannya waktu terdapat perubahan dalam penulisan aksara jawa, sekarang ini para guru mengajarkan Hanacarakan ini dengan penulisan aksaranya yang berada di atas garis.

 

Aksara Jawa

Dalam aksara jawa atau hanacaraka yang kita kenal terdapat beberapa aturan atau tata cara penulisan aksara tersebut. Selain itu ada juga bebera unsur serta aturan lainnya yang harus diperhatikan saat menuliskan aksara jawa. Nah, pada kesempatan kali ini mastekno akan memberikan penjelasan mengenai masing-masing huruf beserta dengan aturan yang ada dalam penulisan aksara jawa.

Semoga setelah membaca artikel ini kamu jadi paham dan tahu cara menulis aksara jawa yang benar. Sebelum lanjut kamu harus tahu terlebih dahulu mengenai penjelasan dasar dari aksara jawa. Bagi kamu  yang belum mengenal atau mempelajari aksara jawa, berikut ini adalah catatan khusus supaya kamu bisa mengikut isi dari artikel ini selanjutnya.

  • HA, menjadi wakil dalam fonem “a” dan ”ha”. Apabila aksara ini ada di bagian depan dari sebuah kata, maka aksara ini akan dibaca “a”. Namun aturan ini tidak berlaku untuk jenis kata atau nama dalam bahasa asing selain bahasa Jawa asli.
  • DA, dalam penulisan jawa latin aksara ini digunakan pada bagian “d” dental dan meletup dimana posisi lidah kita ada di bagian belakang pangkal gigi seri atas yang kemudian diletupkan dalam pengucapannya. Untuk “d” ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu yang ada.
  • DHA, dalam penulisan bahasa Jawa latin digunakan untuk jenis d-retofleks, dimana dalam hal ini posisi lidah dengan “d” untuk bahasa Indonesia ataupun bahasa Melayu namun dengan adanya bunyi yang diletupkan.
  • THA, dalam bentuk penulisan Jawa latiinya digunakan untuk t-retofleks, dimana dalam hal ini posisi lidah sama dengan “d” namun pengucapan tersebut tidak diberatkan. Untuk bunyi pengucapan yang satu ini mirip dengan pada saat orang yang mempunyai aksen Bali saat mengucapkan huruf “t”.

Setiap aksara dalam bahsa Jawa juga memiliki maknya masing-masing. Jadi pembuatan aksara Jawa ini tidaklah sembarangan dan tidak asal dalam pembuatannya. Berikut ini adalah makna dari aksara Jawa yang ada:

  • HA, merupakan hana hurup wening suci yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah adanya hidup adalah kehendak dari Tuhan yang Maha Suci.
  • NA, aksara na dalam aksara jawa merupakan Warsitaning Candara atau Nur Candra dimana artinya adalah pengharapan manusia yang selalu mengharapan sinar dari sang Illahi.
  • CA, dalam aksara jawa ca ini merupakan cipta dadi, cipta weding, atau cipta mandulu yang memiliki arti suatu arah dan tujuan dari Sang Maha Tunggal.
  • RA, dalam aksara jawa ra ini merupakan rasaingsun handulusih yang memiliki arta cinta sejati yang muncul dari cinta kasih dalam hati nurani.
  • KA, dalam aksara jawa ka ini merupakan karsaningsun memayuhayuning bawa yang memiliki arti sebuah hasrat yang diarahkan untuk kesejahteraan alam.
  • DA, dalam aksara jawa da ini merupakan dumadining Dzat kang tanpa winangenan yang memiliki arti menerima kehidupan ini dengan seadanya atau apa adanya.
  • TA, dalam aksara jawat a ini merupakan tatas, tutus, titis, titi lan wibawa yang memiliki arti sesuatu hal yang mendasar, totalitas, satu visi, dan ketelitian dalam memandang sebuah hidup.
  • SA, dalam aksara jawa sa ini merupakan suram ingsun handulu sifatullah yang memiliki arti pembentukan kasih sayang sebagaimana kasih sayang Tuhan.
  • WA, dalam aksara jawa wa ini merupakan wujud hana tan kena kinira yang memiliki arti sebagai ilmu manusia yang terbatas namun untuk penerapannya sangat tidak terbatas.
  • LA, dalam aksara jawa la ini merupakan lir handaya paseban jati yang memiliki arti menjalankan hidup hanya semata-mata untuk memenuhi tuntutan Tuhan.
  • PA, dalam aksara jawa pa ini merupakan papan kang tanpa kiblat yang memiliki arti hakikat Tuhan yang sejatinya ada tanpa arah.
  • DHA, dalam aksara jawa dha ini merupakan duwur weksane endek wiwitane yang memiliki arti untuk dapat mencapai puncak kita harus mulai dari dasarnya atau mulai dari bawah terlebih dahulu.
  • JA, dalam aksara jawa ja ini merupakan jumbuhing kawula lan gusti yang memiliki arti senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memahami kehendak dari Tuhan.
  • YA, dalam aksara jawa wa ini merupakan marang sembarang tumindhak kang dumadi yang memiliki arti yakin terhadap ketetapan dan kuadrat Ilahi.
  • NYA, dalam aksara jawa nya merupakan nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang memiliki arti memahami sunatullah atau kodrat dari kehidupan ini.
  • MA, dalam aksara jawa ma ini merupakan madep mantep menembah maring Ilahi yang memiliki arti mantap dalam menyembah Tuhan.
  • GA, dalam aksara jawa ga ini merupakan guru sejati sing muruki yang memiliki arti pembelajaran kepada guru nurani.
  • BA, dalam aksara jawab a ini merupakan bayu sejati kang andalani yang memiliki arti menyelaraskan diri kepada gerak-gerik alam.
  • THA, dalam aksara jawat ha ini merupakan tukul saka niat yang memiliki arti semua hal harus tumbuh dan diawali dengan niat.
  • NGA, dalam aksara jawa nga ini merupakan ngracut busananing manungso yang memiliki arti melepas ego pribadi pada manusia.

 

Aksara Carakan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 1

Aksara carakan adalah salah satu jenis aksara jawa yang paling mendasar ketika kamu ingin belajar dan menuli aksara jawa. Jika kamu lihat dari namanya saja sudah bisa kita tebak bahwa jenis aksara jawa yang satu ini digunakan untuk menulis kata-kata. Perlu kamu ketahui bahwa setiap aksara carakan yang ada ini mempunyai bentuk serta pasangannya sendiri.

Aksara pasangan dalam aksara ini bisa digunakan untuk menghilangkan atau mematikan bentuk vokal dari aksara yang ada sebelumnya. Supaya kamu lebih mudah dalam memahami penjelasan di atas, penting bagi kamu untuk mengetahui aturan pasangan dalam aksara Carakan beserta dengan cara penguncapannya yang benar. Jenis aksara carakan bisa dibagi menjadi beberapa huruf yang kita kenal dengan sebutan Hanacaraka.

 

Pasangan Aksara Jawa

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 2

Gambar di atas merupakan aksara jawa dan pasangannya. Pasangan aksara jawa sendiri merupakan bentuk khusus yang ada dalam aksara jawa yang digunakan untuk mematikan atau menghilangkan huruf vokal dari bentuk aksara sebelumnya. Aksara pasangan ini digunakan untuk menulis bentuk suku kata yang di dalamnya tidak terdapat huruf vokal.

 

Contoh Pasangan Aksara Jawa

Contoh penggunaan pasangan dalam sebuah tulisan aksara jawa adalah kata “mangan sega”. Kalimat tersebut tidak bisa ditulis menggunakan aksara carakan saja, jadi harus menggunakan aksara pasangan supaya bisa berbunyi mangan sega. Supaya kalimat tersebut tidak dibaca “manganasega”, maka perlu dimatikan atau dihilangkan huruf “na”. Cara untuk menghilangkan huruf Na ini adalah dengan memberikan pasangan pada huruf na. Dengan begitu kalimat tadi bisa dibaca “mangan sega”.

 

Aksara Swara

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 3

Jenis aksara jawa selanjutnya adalah aksara swara, gambar di atas merupakan aksara swara yang digunakan dalam tulisan aksara jawa. Aksara swara adalah jenis aksara yang digunakan untuk menuliskan huruf vokal yang berasal dari bentuk kata serapan bahasa asing supaya pelafalannya menjadi lebih tegas daripada sebelumnya.

 

Sandangan Aksara Swara

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 4

Setelah kamu tahu apa itu aksara swara, kamu juga harus tahu mengenai sandangan aksara swara karena banyak orang yang bingung membedakan antara aksara swara dengan sandangan aksara swara. Sandangan adalah bentuk huruf vokal yang tidak bisa sendiri dan dipakai pada saat berada di bagian tengah kata.

Dalam sandangan ini bisa dibedakan berdasarkan dari cara membacanya. Untuk aksara swara ini tidak sama dengan jenis aksara-aksara yang lain karena ia juga dilengkapi dengan pasangan. Aksara swara juga mempunyai beberapa aturan dalam penulisannya yang perlu kamu ketahui. Berikut adalah rinciannya:

  • Aksara swara ini tidak bisa diubah atau dijadikan sebagai bentuk aksara pasangan.
  • Aksara swara bisa diberikan suatu sandangan wignyan, cecak, suku, wulu, dan sebagainya.
  • Jika aksara swara menemukan sigegan atau konsonan yang ada pada akhir suku kata sebelumnya, maka sigegan tersebut harus dihilangkan atau dimatikan dengan pangkon.

 

Aksara Rekan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 5

Penting untuk kamu catat bahwa berbagai bentuk huruf hanacaraka tidak bisa memenuhi keperluan dalam penulisan sejumlah kata yang berasal dari negara lain. Nah, untuk mengatasi ini, maka ada satu jenis aksara yang bernama aksara rekan, aksara rekan ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Aksara rekan adalah jenis aksara yang digunakan dalam penulisan huruf serapan bahasa asing yang asalnya dari bahasa Arab, contohnya adalah huruf kh, dz, fa, dan sebagainya.

Aksara rekan ini digunakan untuk menulis konsonan yang biasanya ada pada kata-kata asing yang sesuai dengan bentuk aslinya. Aksara rekan yang ada dalam Hanacaraka ini memiliki lima bentuk. Dam semua bentuk memiliki pasangannya masing-masing. Sedangkan untuk penulisan aksara rekan ini berbeda dengan penulisan aksara lainnya. Berikut adalah penjelasannya:

  • Aksara dalam praktiknya bisa diberikan pasangan.
  • Aksara rekan bisa diberikan sandhangan seperti aksara lain yang ada dalam hanacaraka.
  • Tidak semua aksara rekan mempunyai pasangan. Pasangan dalam aksara rekan hanya Fa dan yang lain tidak memiliki.

 

Contoh Aksara Rekan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 6

Gambar di atas merupakan contoh dari aksara rekan, kamu sekarang jadi semakin mudah dalam memahami  cara penulisan yang benar dari suku kata yang di dalamnya mengandung bahasa negara lain seperti Arab. Contoh aksara rekan memang bisa dibilang cukup sulit dan rumit karena tidak terdapat dalam Hanacaraka. Namun jika kamu sudah tahu contohnya kamu tidak akan kesulitan lagi dan bisa menjadi pemula yang baik dalam memahami aksara Jawa.

 

Aksara Murda

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 7

Jenis aksara jawa selanjutnya adalah aksara murda. Aksara murda ini merupakan jenis huruf kapital dalam aksara jawa. Aksara murda secara khusus digunakan dalam menulis jenis huruf depan pada nama seseorang, tempat, ataupun kata-kata lain yang mengharuskan awalnya menggunakan huruf kapital. Selain itu, jenis aksara yang satu ini juga biasa dipakai dalam awalan sebuah kalimat dan paragraf.

Kegunaan dari aksara murda ini diantarnya adalah untuk menuliskan nama orang, nama gelar, nama geografi, nama lembaga yang berbadan dan nama lembaga pemerintahan. Kata-kata tersebut memang huruf awalnya dituliskan menggunakan huruf kapital dalam bahasa Indonesia. Nah, dalam bahasa jawa untuk menuliskan huruf kapital di depan harus menggunakan aksara khusus yang disebut dengan aksara murda ini.

Namun perlu kamu ketahui bahwa tidak semua aksara yang ada dalam Hanacaraka memiliki bentuk aksara murdanya. Hanya ada depalan buah aksara murda yang masuk Hanacaraka. Aksara ini juga mempunyai pasangan mereka sendiri yang fungsi serta kegunaannya sama dengan pasangan dalam aksara jawa.

 

Contoh Aksara Murda

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 8

Gambar di atas merupakan contoh dari penggunaan aksara murda. Penulisan aksara murda ini memang tidak terlalu sulit. Dengan adanya contoh di atas tadi kamu akan semakin mudah dalam belajar aksara jawa sehingga mahir dalam menggunakannya. Khususnya pada saat kamu menjumpai kata yang di depannya harus menggunakan huruf kapital atau huruf besar.

Penulisan aksara murda juga memiliki aturannya sendiri. Aturan dalam penulisan aksara murda tidak jauh berbeda dengan aksara pokok dalam aksara carakan. Hanya ada beberapa peraturan tambahan, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Aksara murda tidak bisa dijadikan sebagai sigeg atau yang lebih dikenal dengan konsonen penutup untuk jenis suku kata.
  • Apabila ditemui sebuah aksara murda yang menjadi sigeg maka harus ditulis dengan aksara pokoknya. Apabila dalam satu kalimat atau kata terdapat lebih dari satu aksara murda, maka akan ada dua aturan yang bisa digunakan. Yang pertama adalah dengan mencantumkan aksara murda untuk yang paling depan, dan yang kedua adalah menuliskan semua aksara murda yang ditemui.

 

Aksara Wilangan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 9

Yang dimaksud dengan aksara wilangan di atas adalah aksara yang digunakan untuk menulis jenis angka dalam aksara jawa. Aksara ini juga dikenal dengan bilangan jika dalam aksara jawa. Angka ini sendiri diguankan untuk menyatakan nomor atau suatu lambang bilangan. Ada banyak jenis angka seperti ukuran, berat, luas, panjang, nilai uang, satuan waktu dan masih banyak lagi.

Berbagai jenis kuantitas penulisan angka ini dilakukan dengan mengapitkan tanda yang diletakan pada bagian awal dan akhir penulisan angka. Untuk penulisan satuan dalam bilangan, satuan tersebut bisa dituliskan dalam bentuk kata lengkap. Contohnya adalah kilometer, kilogram, meter, dan sebagainya.

 

Tanda Baca Aksara Jawa

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 10

Setelah kamu memahami secara detail huruf dan bilangan dalam aksara jawa, selanjutnya kamu juga harus tahu aturan dalam penulisan aksara jawa. Tanda baca atau pratandha dalam aksara jawa juga diperlukan dalam penulisan aksara jawa. Aksara jawa mempunyai beberapa jenis bunyi yang berbeda ketika diucapkan. Hal ini tergantung dari masing-masing kata yang ditulis menggunakan aksara tersebut.

Contohnya saja “a” bisa dibaca a pada jenis kata “papat” dan juga bisa dibaca “a” pada kata “lara”.  aturan tersebut juga belaku pada bunyi e yang mempunyai beberapa jenis bunyi dalam pengucapannya. Dalam huruf hanacarakan sendiri juga ada beberapa tanda baca dalam penulisan aksara tersebut. Ada empat tanda baca yang perlu kamu ketahui dalam perangkat lunak, yaitu”

  • Pada Adeg-Adeg. Yang dipakai pada adeg-adeg adalah bagian depan kalimat pada masing-masing alinea.
  • Pada Adeg. Sedangkan untuk pada adeg ini dipakai untuk menandakan bagian tertentu pada sebuah teks yang perlu diperhatikan, hal ini mirip dengan jenis tanda baca kurung.
  • Pada Lingsa. Pada lingsa ini digunakan di akhir kalimat yang digunakan sebagai sebuah intonasi yang masih setengah selesai. Tanda ini sesuai atau setara dengan tanda koma..
  • Pada Lungsi. Pada selanjutnya adalah pada lungsi yang digunakan di akhir kalimat. Tanda baca yang satu ini sama atau setara dengan tanda titik dalam bahasa Indonesia.
  • Pada Pangkat. Pada pangkat adalah pada yang mempunyai beberapa fungsi. Fungsi dari pada pangkat diantaranya adalah untuk akhir pernyataan lengkap jika diikuti dengan beberapa jenis rangkaian. Selain itu, pada pangkat ini juga bisa digunakan untuk pangkat yang mengapit suatu petikan atau kata-kata langsung.

 

Video Belajar Menulis Aksara Jawa

Hanya dengan penjelasan dan teori saja mungkin tidak cukup, kamu perlu melakukan dan mempraktikkan apa yang sudah kamu ketahui. Karena memang untuk bisa menulis aksara jawa, hanya belajar teori saja tidak cukup. Kamu harus mempelajari tips serta trik dalam menulis aksara jawa. Nah, kamu bisa menggunakan video di yang sudah mastkno lampiran untuk memudahkan kamu dalam belajar menulis aksara jawa dengan cepat dan praktis. Dengan adanya video maka contoh dan pembuatan aksara menjadi lebih jelas dan bisa lebih mudah dipahami.

 

Belajar Membaca Aksara Jawa

Penting untuk kamu ketahui bahwa aksara jawa ini mempunyai banyak bunyi yang berbeda dalam pengucapannya. Hal ini tergantung dari masing-masing kata yang ditulis menggunakan aksara tersebut. Contohya “a” bisa dibaca dengan a pada kata “papat” dan juga bisa dibaca “a” pada kata “lara”. Hal ini juga berlaku untuk huruf e.

Membaca aksara jawa lebih sulit jika dibandingkan belajar membaca bahasa Inggris yang sekarang ini lebih sering kita dengar dan lihat. Jadi, kamu harus benar-benar bersabar dan jeli saat berlatih membaca aksara jawa. Untuk mempermudah proses membaca aksara jawa kamu, kamu harus berlatih setiap hari dengan membaca aksara jawa. Kebiasaan membaca akan sangat membantu kamu mengingat berbagai komponen yang ada di dalamnya, termasuk tanda baca ini yang sering kita gunakan.

Namun alangkah baiknya proses belajar membaca aksara jawa ini diimbangi dengan banyak menulis sehingga bisa mempermudah proses pembelajaran kamu. Jadi, jangan cuma belajar materinya saja, kamu harus praktekan ilmu yang kau pelajar dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sejarah dan Asal Usul Aksara Jawa

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 11

Banyak yang mengenal dan menggunakan aksara jawa setiap harinya, kebanyakan dari mereka tidak tahu asal usul dari aksara jawa tersebut. Banyak juga yang penasaran apakah aksara jawa ini ada asal usulnya atau tidak. Sebenarnya ada beberapa legenda mengenai aksara jawa yang sampai sekarang ini masih dikenal dan bahkan diajarkan di beberapa sekolah. Berikut ini adalah beberapa sejarah mengenai kemunculan aksara jawa tersebut.

Dulu ada seorang ksatria hebat yang berasal dari tanah jawa. Nama ksatria tersebut adalah Aji Saka. Aji Saka ini memiliki seorang abdi yang sangat setiap kepada dia, nama dari abdi tersebut adalah Sembada dan Dora. Pada suatu hari, Aji Saka melakukan sebuah perjalanan ke sebuah kerjanaan yang bernama Medang Kamulan, pada saat itu kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang sangat suka memakan daging manusia. Nama raja yang suka memakan daging manusia tersebut adalah Prabu Dewata Cengkar.

Prabu Dewata Cengkar ini tiap harinya meminta kepada para pelayannya dan prajuritnya untuk menyiapkan dan menghidangkan daging manusia untuk makanan pokok dia. Hal ini membuat para rakyat dalam kerajaan tersebut merasa resah, karena hal ini Aji Saka berinisiatif untuk melawan raja tersebut dengan kedua abdinya yaitu Dora dan Sembada.

Singkatnya, si Aji Saka dan Abdinya telah sampai di pinggiran hutan dan dia sudah masuk kedalam kawasan kekasaan kerajaan Medang Kamulan. Sebelum dia benar-benar masuk kedalam kawasan terseebut, Aji Saka memerintahkan kepada Sembada untuk tetap tinggal di sana untuk menjaga keris pusaka milik Aji Saka. Kemudian ia juga berpesan kepada Sembada supaya keris tersebut dijaga dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh diberikan kepada orang lain siapapun itu kecuali Aji Saka. Sedangkan untuk Dora dia diajak oleh Aji Saka untuk menghadap kepada Prabu Dewata Cengkar.

Setelah bertemu dan menghadap langsung dengan Raja Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka membuat sebuah kesepakatan dengan raja tersebut. Ia bersedia dimakan oleh Sang Prabu dengan sebuah syarat. Syarat tersebut adalah Sang Prabu harus menyerahkan daerah kekuasannya seluas surban yang dikenakan oleh Aji Saka. Kemudian akhirnya Sang Prabu menyetujui syarat yang Aji Saka berikan.

Setelah itu Aji Saka meminat Sang Prabu Dewata Cengkar untuk mengukur tanah yang dia janjikan dengan cara memegang salah satu bagian dari ujung surban yang dia kenakan. Kemudian bagian ujung surban yang lain dipegang oleh Aji Saka. Setelah itu Sang Prabu mulai menarik surban tersebut dan menjadi semakin panjang. Sang Prabu tersebut bergerak memanjangkan surban tersebut dan kemudian surban mulai terbentang.

Dengan kesaktian yang dimiliki oleh Aji Saka, ternyata surban tersebut tidak habis-habis ketika dibuka. Sang Prabu kemudian terus berjalan untuk membentangkan surban tersebut. Kemudian sampailah Sang Prabu Dewata Cengakar pada tepi jurang batu yang sangat dalam dan terjal. Dengan cepat Aji saka menggoyangkan surban miliknya yang akhirnya sang Prabu jadi terlembar ke jurang. Setelah itu semua rakyat kerajaan tersebut sangat bahagia dan menjadikan Aji Saka sebagai raja kerajaan tersebut.

Setelah beberapa saat Aji Saka menjadi Raja, Aji Saka lupa bahwa dia menitipkan kerisnya kepada Sembada. Kemudian dia meminta Dora untuk mengambil keris tersebut. Akhirnya Dora pergi untuk mengambil keris Aji Saka dan sampai pada tempat dimana Sembada berada. Di awal pertemuan mereka saling berbincang dan menanyakan kabar masing-masing. Kemudian  pembicaraan berlanjut pada Dora yang meminta keris pusaka Aji Saka dari Sembada.

Namun Sembada ingat pesan dari Aji Saka bahwa dia tidak boleh menyerahkan keris tersebut kepada siapapun keculai kepada Aji Saka. Akhirnya Sembada menolak untuk memberikan keris tersebut kepada Dora. Sedangkan Dora sendiri harus taat kepada perintah Aji Saka untuk mengambil keris tersebut. Akhirnya mereka berdua tidak ada yang mau mengalah dan menjaga amanah yang mereka terima. Akhirnya mereka bertengkar dan bertarung menggunakan kekuatan mereka.  Sampai pada akhirnya mereka berdua tewas setelah bertarung menggunakan kesaktian mereka masing-masig.

Setelah itu berita kematian mereka terdengar oleh Aji Saka. Karena kecerobohan yang dia perbuat, dua abdi yang setiap kepadanya harus mati. Karena hal ini dia sangat menyesal, untuk menghormati kedua abdinya yang sangat setia dan menjaga amanah tersebut Aji Saka membuat barisan huruf dan juga alphabet yang sekarang ini dikenal dengan istilah aksara Jawa.

Ha Na Ca Ra Ka (ada dua orang carakan atau utusan)

Da Ta Sa Wa La (saling bertarung untuk mempertahankan sebuah amanah)

Pa Dha Ja Ya Nya (karena keduanya memiliki kesaktian yang sama)

Ma Dha Ba Tha Nga (akhirnya keduanya mati menjadi bangkai)

Aksara Jawa memang memiliki cakupan yang luas dan juga rumit jika dipelajari. Namun meskipun begitu kita harus tetap mempelajari aksara jawa ini supaya tidak hilang dan punah, kita harus senantiasa hidup di tengah kekayaan budaya Nusantara yang sangat melimpah. Pengajaran aksara jawa ini juga seharusnya perlu dilakukan secara intens supaya anak-anak pada usia sekolah bisa memiliki perhatian lebih pada askara jawa ini.

Nah, itulah informasi yang bisa mastekno sampaikan tentang aksara jawa beserta pasangan, sandangan, contoh dan cara menulis aksara jawa yang benar. Di atas tadi juga sudah mastekno jelaskan sejarah awal adanya aksara jawa yang sampai sekarang masih digunakan. Dengan mempelajari ini kamu bisa mempertahankan budaya yang sejak dulu ini. Dengan mempelajari aksara jawa maka kedepannya aksara jawa akan tetap ada dan tidak punah.

 

Sebagai warga Indonesia kita harus melestarikannya dan tidak meninggalkan aksara jawa hanya karena sudah ketinggalan zaman. Sekian dulu apa yang bisa mastekno sampaikan tentang aksara jawab mulai dari pasangan, sandangan dan contoh aksara jawa, apabila ada kesalahan dalam informasi yang saya sampaikan di atas saya minta maaf, silahkan koreksi dengan komen di bawah postingan ini, terima kasih.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aksara Jawa: Pasangan, Sandangan, Contoh dan Cara Menulis

Aksara Jawa: Pasangan, Sandangan, Contoh dan Cara Menulis
By : Mochamad Alif Prayogo 19 min read

Aksara Jawa – Di sekolah tentu kita pernah menjumpai mata pelajaran Bahasa Jawa, dan dalam pelajaran bahasa jawa kita dikenalkan dengan yang namanya aksara jawa. Aksara Jawa merupakan turunan dari jenis aksara Brahmi. Jenis aksara yang satu ini telah lama dipakai di berbagai wilayah Nusantara dari berbagai kalangan. Beberapa wilayah yang menggunakan aksara jenis ini adalah Pulau Jawa, Sunda, Melayu, Makasar, sasak dan biasa juga digunakan dalam penulisan karya sastra yang menggunakan bahasa Jawa.

Awal mula aksara jawa ini digunakan sudah sangat lama, bahkan sejak abad ke 17 masehi aksara jawa sudah digunakan pada masa berdirinya kerajaan Mataram Islam. Pada masa kerjaan Mataram Islam tersebut pula ditetapkan abjad carakan atau yang lebih dikenal dengan abjad Hanacaraka yang sampai sekarang ini masih digunakan. Kemudian pada aban ke 19 masehi aksaara jawa baru dibuat dalam bentuk cetakan. Aksara jawa ini sebenarnya gabungan dari aksara Kawi dan aksara Abugida.

Berdasarkan dari struktur tiap huruf pada aksara jawa, setidaknya mewakili dua buah dari abjad aksara yang ada dalam bentuk latin. Hal ini juga menjadi bukti bahwa aksara Jawa ini memang merupakan gabungan dari kedua aksara yaitu Kawi dan Abugida. Sebagai contoh adalah huruf Ha menjadi perwakilan huruf H dan A. Kedua suku kata tersebut bisa dibilang utuh jika dibandingkan dengan kata Hari. Kemudian pada aksara Na yang merupakan gabungan antara huruf N dan A. Aksara ini juga menjadi suku kata yang utuh jika dibandingkan dengan kata Nabi.

Karena hal inilah cacah huruf pada penulisan kata yang disingkat jika dibandingkan dengan tata cara menulis dalam bentuk aksara latin yang biasa kita gunakan.Sama halnya dengan jenis aksara Hindi dimana dalam bentuk orisinilnya tata cara penulisan untuk aksara Jawa yaitu Jawa Hanacaraka adalah dengan menggantung atau dengan diberi garis pada sisi bawahnya. Kemudian setelah seiring berjalannya waktu terdapat perubahan dalam penulisan aksara jawa, sekarang ini para guru mengajarkan Hanacarakan ini dengan penulisan aksaranya yang berada di atas garis.

 

Aksara Jawa

Dalam aksara jawa atau hanacaraka yang kita kenal terdapat beberapa aturan atau tata cara penulisan aksara tersebut. Selain itu ada juga bebera unsur serta aturan lainnya yang harus diperhatikan saat menuliskan aksara jawa. Nah, pada kesempatan kali ini mastekno akan memberikan penjelasan mengenai masing-masing huruf beserta dengan aturan yang ada dalam penulisan aksara jawa.

Semoga setelah membaca artikel ini kamu jadi paham dan tahu cara menulis aksara jawa yang benar. Sebelum lanjut kamu harus tahu terlebih dahulu mengenai penjelasan dasar dari aksara jawa. Bagi kamu  yang belum mengenal atau mempelajari aksara jawa, berikut ini adalah catatan khusus supaya kamu bisa mengikut isi dari artikel ini selanjutnya.

  • HA, menjadi wakil dalam fonem “a” dan ”ha”. Apabila aksara ini ada di bagian depan dari sebuah kata, maka aksara ini akan dibaca “a”. Namun aturan ini tidak berlaku untuk jenis kata atau nama dalam bahasa asing selain bahasa Jawa asli.
  • DA, dalam penulisan jawa latin aksara ini digunakan pada bagian “d” dental dan meletup dimana posisi lidah kita ada di bagian belakang pangkal gigi seri atas yang kemudian diletupkan dalam pengucapannya. Untuk “d” ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu yang ada.
  • DHA, dalam penulisan bahasa Jawa latin digunakan untuk jenis d-retofleks, dimana dalam hal ini posisi lidah dengan “d” untuk bahasa Indonesia ataupun bahasa Melayu namun dengan adanya bunyi yang diletupkan.
  • THA, dalam bentuk penulisan Jawa latiinya digunakan untuk t-retofleks, dimana dalam hal ini posisi lidah sama dengan “d” namun pengucapan tersebut tidak diberatkan. Untuk bunyi pengucapan yang satu ini mirip dengan pada saat orang yang mempunyai aksen Bali saat mengucapkan huruf “t”.

Setiap aksara dalam bahsa Jawa juga memiliki maknya masing-masing. Jadi pembuatan aksara Jawa ini tidaklah sembarangan dan tidak asal dalam pembuatannya. Berikut ini adalah makna dari aksara Jawa yang ada:

  • HA, merupakan hana hurup wening suci yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah adanya hidup adalah kehendak dari Tuhan yang Maha Suci.
  • NA, aksara na dalam aksara jawa merupakan Warsitaning Candara atau Nur Candra dimana artinya adalah pengharapan manusia yang selalu mengharapan sinar dari sang Illahi.
  • CA, dalam aksara jawa ca ini merupakan cipta dadi, cipta weding, atau cipta mandulu yang memiliki arti suatu arah dan tujuan dari Sang Maha Tunggal.
  • RA, dalam aksara jawa ra ini merupakan rasaingsun handulusih yang memiliki arta cinta sejati yang muncul dari cinta kasih dalam hati nurani.
  • KA, dalam aksara jawa ka ini merupakan karsaningsun memayuhayuning bawa yang memiliki arti sebuah hasrat yang diarahkan untuk kesejahteraan alam.
  • DA, dalam aksara jawa da ini merupakan dumadining Dzat kang tanpa winangenan yang memiliki arti menerima kehidupan ini dengan seadanya atau apa adanya.
  • TA, dalam aksara jawat a ini merupakan tatas, tutus, titis, titi lan wibawa yang memiliki arti sesuatu hal yang mendasar, totalitas, satu visi, dan ketelitian dalam memandang sebuah hidup.
  • SA, dalam aksara jawa sa ini merupakan suram ingsun handulu sifatullah yang memiliki arti pembentukan kasih sayang sebagaimana kasih sayang Tuhan.
  • WA, dalam aksara jawa wa ini merupakan wujud hana tan kena kinira yang memiliki arti sebagai ilmu manusia yang terbatas namun untuk penerapannya sangat tidak terbatas.
  • LA, dalam aksara jawa la ini merupakan lir handaya paseban jati yang memiliki arti menjalankan hidup hanya semata-mata untuk memenuhi tuntutan Tuhan.
  • PA, dalam aksara jawa pa ini merupakan papan kang tanpa kiblat yang memiliki arti hakikat Tuhan yang sejatinya ada tanpa arah.
  • DHA, dalam aksara jawa dha ini merupakan duwur weksane endek wiwitane yang memiliki arti untuk dapat mencapai puncak kita harus mulai dari dasarnya atau mulai dari bawah terlebih dahulu.
  • JA, dalam aksara jawa ja ini merupakan jumbuhing kawula lan gusti yang memiliki arti senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memahami kehendak dari Tuhan.
  • YA, dalam aksara jawa wa ini merupakan marang sembarang tumindhak kang dumadi yang memiliki arti yakin terhadap ketetapan dan kuadrat Ilahi.
  • NYA, dalam aksara jawa nya merupakan nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang memiliki arti memahami sunatullah atau kodrat dari kehidupan ini.
  • MA, dalam aksara jawa ma ini merupakan madep mantep menembah maring Ilahi yang memiliki arti mantap dalam menyembah Tuhan.
  • GA, dalam aksara jawa ga ini merupakan guru sejati sing muruki yang memiliki arti pembelajaran kepada guru nurani.
  • BA, dalam aksara jawab a ini merupakan bayu sejati kang andalani yang memiliki arti menyelaraskan diri kepada gerak-gerik alam.
  • THA, dalam aksara jawat ha ini merupakan tukul saka niat yang memiliki arti semua hal harus tumbuh dan diawali dengan niat.
  • NGA, dalam aksara jawa nga ini merupakan ngracut busananing manungso yang memiliki arti melepas ego pribadi pada manusia.

 

Aksara Carakan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 1

Aksara carakan adalah salah satu jenis aksara jawa yang paling mendasar ketika kamu ingin belajar dan menuli aksara jawa. Jika kamu lihat dari namanya saja sudah bisa kita tebak bahwa jenis aksara jawa yang satu ini digunakan untuk menulis kata-kata. Perlu kamu ketahui bahwa setiap aksara carakan yang ada ini mempunyai bentuk serta pasangannya sendiri.

Aksara pasangan dalam aksara ini bisa digunakan untuk menghilangkan atau mematikan bentuk vokal dari aksara yang ada sebelumnya. Supaya kamu lebih mudah dalam memahami penjelasan di atas, penting bagi kamu untuk mengetahui aturan pasangan dalam aksara Carakan beserta dengan cara penguncapannya yang benar. Jenis aksara carakan bisa dibagi menjadi beberapa huruf yang kita kenal dengan sebutan Hanacaraka.

 

Pasangan Aksara Jawa

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 2

Gambar di atas merupakan aksara jawa dan pasangannya. Pasangan aksara jawa sendiri merupakan bentuk khusus yang ada dalam aksara jawa yang digunakan untuk mematikan atau menghilangkan huruf vokal dari bentuk aksara sebelumnya. Aksara pasangan ini digunakan untuk menulis bentuk suku kata yang di dalamnya tidak terdapat huruf vokal.

 

Contoh Pasangan Aksara Jawa

Contoh penggunaan pasangan dalam sebuah tulisan aksara jawa adalah kata “mangan sega”. Kalimat tersebut tidak bisa ditulis menggunakan aksara carakan saja, jadi harus menggunakan aksara pasangan supaya bisa berbunyi mangan sega. Supaya kalimat tersebut tidak dibaca “manganasega”, maka perlu dimatikan atau dihilangkan huruf “na”. Cara untuk menghilangkan huruf Na ini adalah dengan memberikan pasangan pada huruf na. Dengan begitu kalimat tadi bisa dibaca “mangan sega”.

 

Aksara Swara

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 3

Jenis aksara jawa selanjutnya adalah aksara swara, gambar di atas merupakan aksara swara yang digunakan dalam tulisan aksara jawa. Aksara swara adalah jenis aksara yang digunakan untuk menuliskan huruf vokal yang berasal dari bentuk kata serapan bahasa asing supaya pelafalannya menjadi lebih tegas daripada sebelumnya.

 

Sandangan Aksara Swara

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 4

Setelah kamu tahu apa itu aksara swara, kamu juga harus tahu mengenai sandangan aksara swara karena banyak orang yang bingung membedakan antara aksara swara dengan sandangan aksara swara. Sandangan adalah bentuk huruf vokal yang tidak bisa sendiri dan dipakai pada saat berada di bagian tengah kata.

Dalam sandangan ini bisa dibedakan berdasarkan dari cara membacanya. Untuk aksara swara ini tidak sama dengan jenis aksara-aksara yang lain karena ia juga dilengkapi dengan pasangan. Aksara swara juga mempunyai beberapa aturan dalam penulisannya yang perlu kamu ketahui. Berikut adalah rinciannya:

  • Aksara swara ini tidak bisa diubah atau dijadikan sebagai bentuk aksara pasangan.
  • Aksara swara bisa diberikan suatu sandangan wignyan, cecak, suku, wulu, dan sebagainya.
  • Jika aksara swara menemukan sigegan atau konsonan yang ada pada akhir suku kata sebelumnya, maka sigegan tersebut harus dihilangkan atau dimatikan dengan pangkon.

 

Aksara Rekan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 5

Penting untuk kamu catat bahwa berbagai bentuk huruf hanacaraka tidak bisa memenuhi keperluan dalam penulisan sejumlah kata yang berasal dari negara lain. Nah, untuk mengatasi ini, maka ada satu jenis aksara yang bernama aksara rekan, aksara rekan ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Aksara rekan adalah jenis aksara yang digunakan dalam penulisan huruf serapan bahasa asing yang asalnya dari bahasa Arab, contohnya adalah huruf kh, dz, fa, dan sebagainya.

Aksara rekan ini digunakan untuk menulis konsonan yang biasanya ada pada kata-kata asing yang sesuai dengan bentuk aslinya. Aksara rekan yang ada dalam Hanacaraka ini memiliki lima bentuk. Dam semua bentuk memiliki pasangannya masing-masing. Sedangkan untuk penulisan aksara rekan ini berbeda dengan penulisan aksara lainnya. Berikut adalah penjelasannya:

  • Aksara dalam praktiknya bisa diberikan pasangan.
  • Aksara rekan bisa diberikan sandhangan seperti aksara lain yang ada dalam hanacaraka.
  • Tidak semua aksara rekan mempunyai pasangan. Pasangan dalam aksara rekan hanya Fa dan yang lain tidak memiliki.

 

Contoh Aksara Rekan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 6

Gambar di atas merupakan contoh dari aksara rekan, kamu sekarang jadi semakin mudah dalam memahami  cara penulisan yang benar dari suku kata yang di dalamnya mengandung bahasa negara lain seperti Arab. Contoh aksara rekan memang bisa dibilang cukup sulit dan rumit karena tidak terdapat dalam Hanacaraka. Namun jika kamu sudah tahu contohnya kamu tidak akan kesulitan lagi dan bisa menjadi pemula yang baik dalam memahami aksara Jawa.

 

Aksara Murda

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 7

Jenis aksara jawa selanjutnya adalah aksara murda. Aksara murda ini merupakan jenis huruf kapital dalam aksara jawa. Aksara murda secara khusus digunakan dalam menulis jenis huruf depan pada nama seseorang, tempat, ataupun kata-kata lain yang mengharuskan awalnya menggunakan huruf kapital. Selain itu, jenis aksara yang satu ini juga biasa dipakai dalam awalan sebuah kalimat dan paragraf.

Kegunaan dari aksara murda ini diantarnya adalah untuk menuliskan nama orang, nama gelar, nama geografi, nama lembaga yang berbadan dan nama lembaga pemerintahan. Kata-kata tersebut memang huruf awalnya dituliskan menggunakan huruf kapital dalam bahasa Indonesia. Nah, dalam bahasa jawa untuk menuliskan huruf kapital di depan harus menggunakan aksara khusus yang disebut dengan aksara murda ini.

Namun perlu kamu ketahui bahwa tidak semua aksara yang ada dalam Hanacaraka memiliki bentuk aksara murdanya. Hanya ada depalan buah aksara murda yang masuk Hanacaraka. Aksara ini juga mempunyai pasangan mereka sendiri yang fungsi serta kegunaannya sama dengan pasangan dalam aksara jawa.

 

Contoh Aksara Murda

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 8

Gambar di atas merupakan contoh dari penggunaan aksara murda. Penulisan aksara murda ini memang tidak terlalu sulit. Dengan adanya contoh di atas tadi kamu akan semakin mudah dalam belajar aksara jawa sehingga mahir dalam menggunakannya. Khususnya pada saat kamu menjumpai kata yang di depannya harus menggunakan huruf kapital atau huruf besar.

Penulisan aksara murda juga memiliki aturannya sendiri. Aturan dalam penulisan aksara murda tidak jauh berbeda dengan aksara pokok dalam aksara carakan. Hanya ada beberapa peraturan tambahan, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Aksara murda tidak bisa dijadikan sebagai sigeg atau yang lebih dikenal dengan konsonen penutup untuk jenis suku kata.
  • Apabila ditemui sebuah aksara murda yang menjadi sigeg maka harus ditulis dengan aksara pokoknya. Apabila dalam satu kalimat atau kata terdapat lebih dari satu aksara murda, maka akan ada dua aturan yang bisa digunakan. Yang pertama adalah dengan mencantumkan aksara murda untuk yang paling depan, dan yang kedua adalah menuliskan semua aksara murda yang ditemui.

 

Aksara Wilangan

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 9

Yang dimaksud dengan aksara wilangan di atas adalah aksara yang digunakan untuk menulis jenis angka dalam aksara jawa. Aksara ini juga dikenal dengan bilangan jika dalam aksara jawa. Angka ini sendiri diguankan untuk menyatakan nomor atau suatu lambang bilangan. Ada banyak jenis angka seperti ukuran, berat, luas, panjang, nilai uang, satuan waktu dan masih banyak lagi.

Berbagai jenis kuantitas penulisan angka ini dilakukan dengan mengapitkan tanda yang diletakan pada bagian awal dan akhir penulisan angka. Untuk penulisan satuan dalam bilangan, satuan tersebut bisa dituliskan dalam bentuk kata lengkap. Contohnya adalah kilometer, kilogram, meter, dan sebagainya.

 

Tanda Baca Aksara Jawa

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 10

Setelah kamu memahami secara detail huruf dan bilangan dalam aksara jawa, selanjutnya kamu juga harus tahu aturan dalam penulisan aksara jawa. Tanda baca atau pratandha dalam aksara jawa juga diperlukan dalam penulisan aksara jawa. Aksara jawa mempunyai beberapa jenis bunyi yang berbeda ketika diucapkan. Hal ini tergantung dari masing-masing kata yang ditulis menggunakan aksara tersebut.

Contohnya saja “a” bisa dibaca a pada jenis kata “papat” dan juga bisa dibaca “a” pada kata “lara”.  aturan tersebut juga belaku pada bunyi e yang mempunyai beberapa jenis bunyi dalam pengucapannya. Dalam huruf hanacarakan sendiri juga ada beberapa tanda baca dalam penulisan aksara tersebut. Ada empat tanda baca yang perlu kamu ketahui dalam perangkat lunak, yaitu”

  • Pada Adeg-Adeg. Yang dipakai pada adeg-adeg adalah bagian depan kalimat pada masing-masing alinea.
  • Pada Adeg. Sedangkan untuk pada adeg ini dipakai untuk menandakan bagian tertentu pada sebuah teks yang perlu diperhatikan, hal ini mirip dengan jenis tanda baca kurung.
  • Pada Lingsa. Pada lingsa ini digunakan di akhir kalimat yang digunakan sebagai sebuah intonasi yang masih setengah selesai. Tanda ini sesuai atau setara dengan tanda koma..
  • Pada Lungsi. Pada selanjutnya adalah pada lungsi yang digunakan di akhir kalimat. Tanda baca yang satu ini sama atau setara dengan tanda titik dalam bahasa Indonesia.
  • Pada Pangkat. Pada pangkat adalah pada yang mempunyai beberapa fungsi. Fungsi dari pada pangkat diantaranya adalah untuk akhir pernyataan lengkap jika diikuti dengan beberapa jenis rangkaian. Selain itu, pada pangkat ini juga bisa digunakan untuk pangkat yang mengapit suatu petikan atau kata-kata langsung.

 

Video Belajar Menulis Aksara Jawa

Hanya dengan penjelasan dan teori saja mungkin tidak cukup, kamu perlu melakukan dan mempraktikkan apa yang sudah kamu ketahui. Karena memang untuk bisa menulis aksara jawa, hanya belajar teori saja tidak cukup. Kamu harus mempelajari tips serta trik dalam menulis aksara jawa. Nah, kamu bisa menggunakan video di yang sudah mastkno lampiran untuk memudahkan kamu dalam belajar menulis aksara jawa dengan cepat dan praktis. Dengan adanya video maka contoh dan pembuatan aksara menjadi lebih jelas dan bisa lebih mudah dipahami.

 

Belajar Membaca Aksara Jawa

Penting untuk kamu ketahui bahwa aksara jawa ini mempunyai banyak bunyi yang berbeda dalam pengucapannya. Hal ini tergantung dari masing-masing kata yang ditulis menggunakan aksara tersebut. Contohya “a” bisa dibaca dengan a pada kata “papat” dan juga bisa dibaca “a” pada kata “lara”. Hal ini juga berlaku untuk huruf e.

Membaca aksara jawa lebih sulit jika dibandingkan belajar membaca bahasa Inggris yang sekarang ini lebih sering kita dengar dan lihat. Jadi, kamu harus benar-benar bersabar dan jeli saat berlatih membaca aksara jawa. Untuk mempermudah proses membaca aksara jawa kamu, kamu harus berlatih setiap hari dengan membaca aksara jawa. Kebiasaan membaca akan sangat membantu kamu mengingat berbagai komponen yang ada di dalamnya, termasuk tanda baca ini yang sering kita gunakan.

Namun alangkah baiknya proses belajar membaca aksara jawa ini diimbangi dengan banyak menulis sehingga bisa mempermudah proses pembelajaran kamu. Jadi, jangan cuma belajar materinya saja, kamu harus praktekan ilmu yang kau pelajar dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sejarah dan Asal Usul Aksara Jawa

aksara jawa beserta pasangan sandangan dan contohnya lengkap 11

Banyak yang mengenal dan menggunakan aksara jawa setiap harinya, kebanyakan dari mereka tidak tahu asal usul dari aksara jawa tersebut. Banyak juga yang penasaran apakah aksara jawa ini ada asal usulnya atau tidak. Sebenarnya ada beberapa legenda mengenai aksara jawa yang sampai sekarang ini masih dikenal dan bahkan diajarkan di beberapa sekolah. Berikut ini adalah beberapa sejarah mengenai kemunculan aksara jawa tersebut.

Dulu ada seorang ksatria hebat yang berasal dari tanah jawa. Nama ksatria tersebut adalah Aji Saka. Aji Saka ini memiliki seorang abdi yang sangat setiap kepada dia, nama dari abdi tersebut adalah Sembada dan Dora. Pada suatu hari, Aji Saka melakukan sebuah perjalanan ke sebuah kerjanaan yang bernama Medang Kamulan, pada saat itu kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang sangat suka memakan daging manusia. Nama raja yang suka memakan daging manusia tersebut adalah Prabu Dewata Cengkar.

Prabu Dewata Cengkar ini tiap harinya meminta kepada para pelayannya dan prajuritnya untuk menyiapkan dan menghidangkan daging manusia untuk makanan pokok dia. Hal ini membuat para rakyat dalam kerajaan tersebut merasa resah, karena hal ini Aji Saka berinisiatif untuk melawan raja tersebut dengan kedua abdinya yaitu Dora dan Sembada.

Singkatnya, si Aji Saka dan Abdinya telah sampai di pinggiran hutan dan dia sudah masuk kedalam kawasan kekasaan kerajaan Medang Kamulan. Sebelum dia benar-benar masuk kedalam kawasan terseebut, Aji Saka memerintahkan kepada Sembada untuk tetap tinggal di sana untuk menjaga keris pusaka milik Aji Saka. Kemudian ia juga berpesan kepada Sembada supaya keris tersebut dijaga dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh diberikan kepada orang lain siapapun itu kecuali Aji Saka. Sedangkan untuk Dora dia diajak oleh Aji Saka untuk menghadap kepada Prabu Dewata Cengkar.

Setelah bertemu dan menghadap langsung dengan Raja Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka membuat sebuah kesepakatan dengan raja tersebut. Ia bersedia dimakan oleh Sang Prabu dengan sebuah syarat. Syarat tersebut adalah Sang Prabu harus menyerahkan daerah kekuasannya seluas surban yang dikenakan oleh Aji Saka. Kemudian akhirnya Sang Prabu menyetujui syarat yang Aji Saka berikan.

Setelah itu Aji Saka meminat Sang Prabu Dewata Cengkar untuk mengukur tanah yang dia janjikan dengan cara memegang salah satu bagian dari ujung surban yang dia kenakan. Kemudian bagian ujung surban yang lain dipegang oleh Aji Saka. Setelah itu Sang Prabu mulai menarik surban tersebut dan menjadi semakin panjang. Sang Prabu tersebut bergerak memanjangkan surban tersebut dan kemudian surban mulai terbentang.

Dengan kesaktian yang dimiliki oleh Aji Saka, ternyata surban tersebut tidak habis-habis ketika dibuka. Sang Prabu kemudian terus berjalan untuk membentangkan surban tersebut. Kemudian sampailah Sang Prabu Dewata Cengakar pada tepi jurang batu yang sangat dalam dan terjal. Dengan cepat Aji saka menggoyangkan surban miliknya yang akhirnya sang Prabu jadi terlembar ke jurang. Setelah itu semua rakyat kerajaan tersebut sangat bahagia dan menjadikan Aji Saka sebagai raja kerajaan tersebut.

Setelah beberapa saat Aji Saka menjadi Raja, Aji Saka lupa bahwa dia menitipkan kerisnya kepada Sembada. Kemudian dia meminta Dora untuk mengambil keris tersebut. Akhirnya Dora pergi untuk mengambil keris Aji Saka dan sampai pada tempat dimana Sembada berada. Di awal pertemuan mereka saling berbincang dan menanyakan kabar masing-masing. Kemudian  pembicaraan berlanjut pada Dora yang meminta keris pusaka Aji Saka dari Sembada.

Namun Sembada ingat pesan dari Aji Saka bahwa dia tidak boleh menyerahkan keris tersebut kepada siapapun keculai kepada Aji Saka. Akhirnya Sembada menolak untuk memberikan keris tersebut kepada Dora. Sedangkan Dora sendiri harus taat kepada perintah Aji Saka untuk mengambil keris tersebut. Akhirnya mereka berdua tidak ada yang mau mengalah dan menjaga amanah yang mereka terima. Akhirnya mereka bertengkar dan bertarung menggunakan kekuatan mereka.  Sampai pada akhirnya mereka berdua tewas setelah bertarung menggunakan kesaktian mereka masing-masig.

Setelah itu berita kematian mereka terdengar oleh Aji Saka. Karena kecerobohan yang dia perbuat, dua abdi yang setiap kepadanya harus mati. Karena hal ini dia sangat menyesal, untuk menghormati kedua abdinya yang sangat setia dan menjaga amanah tersebut Aji Saka membuat barisan huruf dan juga alphabet yang sekarang ini dikenal dengan istilah aksara Jawa.

Ha Na Ca Ra Ka (ada dua orang carakan atau utusan)

Da Ta Sa Wa La (saling bertarung untuk mempertahankan sebuah amanah)

Pa Dha Ja Ya Nya (karena keduanya memiliki kesaktian yang sama)

Ma Dha Ba Tha Nga (akhirnya keduanya mati menjadi bangkai)

Aksara Jawa memang memiliki cakupan yang luas dan juga rumit jika dipelajari. Namun meskipun begitu kita harus tetap mempelajari aksara jawa ini supaya tidak hilang dan punah, kita harus senantiasa hidup di tengah kekayaan budaya Nusantara yang sangat melimpah. Pengajaran aksara jawa ini juga seharusnya perlu dilakukan secara intens supaya anak-anak pada usia sekolah bisa memiliki perhatian lebih pada askara jawa ini.

Nah, itulah informasi yang bisa mastekno sampaikan tentang aksara jawa beserta pasangan, sandangan, contoh dan cara menulis aksara jawa yang benar. Di atas tadi juga sudah mastekno jelaskan sejarah awal adanya aksara jawa yang sampai sekarang masih digunakan. Dengan mempelajari ini kamu bisa mempertahankan budaya yang sejak dulu ini. Dengan mempelajari aksara jawa maka kedepannya aksara jawa akan tetap ada dan tidak punah.

 

Sebagai warga Indonesia kita harus melestarikannya dan tidak meninggalkan aksara jawa hanya karena sudah ketinggalan zaman. Sekian dulu apa yang bisa mastekno sampaikan tentang aksara jawab mulai dari pasangan, sandangan dan contoh aksara jawa, apabila ada kesalahan dalam informasi yang saya sampaikan di atas saya minta maaf, silahkan koreksi dengan komen di bawah postingan ini, terima kasih.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *